<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>History of Graphic Design in Indonesia</title>
	<atom:link href="http://hgdi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hgdi.wordpress.com</link>
	<description>Chronological survey of graphic design in Indonesia and its relationship to other visual arts and design disciplines</description>
	<lastBuildDate>Tue, 19 May 2009 06:04:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='hgdi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>History of Graphic Design in Indonesia</title>
		<link>http://hgdi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hgdi.wordpress.com/osd.xml" title="History of Graphic Design in Indonesia" />
	<atom:link rel='hub' href='http://hgdi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>1980-1989: Lahirnya Istilah &#8220;Perancang Grafik&#8221;</title>
		<link>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/1980-1989-lahirnya-istilah-perancang-grafik/</link>
		<comments>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/1980-1989-lahirnya-istilah-perancang-grafik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 05:56:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[1980-1989]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hgdi.wordpress.com/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Agus Dermawan T Kata grafik bagi orang di desa saya punya makna sesuatu yang ilmiah. Sebab ia senantiasa dihubungkan dengan hal-hal yang menyangkut penghitungan atau pendataan. Entah itu penghitungan penduduk atau pendataan hasil panen beras dalam kurun tertentu. Tetapi begitu kata grafik di desa saya tersebut tokh tak lepas dari sifat grafik yang sebenarnya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hgdi.wordpress.com&amp;blog=7589571&amp;post=225&amp;subd=hgdi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Agus Dermawan T</p>
<p>Kata grafik bagi orang di desa saya punya makna sesuatu yang ilmiah. Sebab ia senantiasa dihubungkan dengan hal-hal yang menyangkut penghitungan atau pendataan. Entah itu penghitungan penduduk atau pendataan hasil panen beras dalam kurun tertentu. Tetapi begitu kata grafik di desa saya tersebut tokh tak lepas dari sifat grafik yang sebenarnya, yakni: tulisan coretan. Atau lebih melebar lagi: gambar. Gambar grafik itu berbentuk garis-garis lurus, yang boleh membujur dan menyilang dan menunjuk angka-angka tertentu. Di sisi lain, orang bilang itu adalah gambar statistik. Biasanya ia tertempel di kantor pak lurah.</p>
<p>Jadi jelas, jika ada spanduk pameran grafik terbaca oleh orang dari desa saya itu, pasti ia akan tertawa dan berkata sendiri. &#8220;Goblok. Gambar-gambar begitu saja dipamerkan. Apa bagusnya&#8230;.&#8221;. He he, ini memang iseng. </p>
<p>Tetapi bagi siswa sekolah seni rupa, atau mahasiswa perguruan tinggi seni rupa, istilah grafik dilalap sebagai &#8220;seni rupa yang disiapkan untuk diproduksi banyak&#8221;. Dan itu dihubungkan dengan etsa, litografi, woodcut, linografi, harboardcut, serigrafi, sablon dan sebagainya. Dan ini juga tepat, seperti halnya pengertian orang di desa saya itu. </p>
<p>Hanya saja, jika bagi orang desa tersebut citra grafik adalah &#8220;barang jadi&#8221;, atau sekedar jenis gambar saja, maka bagi orang seni rupa punya implikasi tehnis. Yakni suatu karya seni yang musti dikerjakan dengan cara-cara yang khas dan tertentu. </p>
<p>Jadi, cara-nya yang terambil sebagai makna dari istilah itu. Kemudian selebihnya, jika grafik istilah orang desa dihidupkan oleh angka-angka, maka grafik orang seni rupa digerakkan oleh ekspresi. Yang satu gambar ilmiah. Yang satu lagi gambar seni. Itulah.</p>
<p>Dan agaknya, istilah yang terakhir tersebut yang paling tepat diletakkan di tengah latar pameran ini. Sebab dari runtutan sejarah itulah akhirnya muncul yang namanya &#8220;perancang grafik&#8221;.  Apa bener?</p>
<p>EMPAT DASAR KERJA<br />
Pada abad ke 19 orang membagi 4 cara dalam mengolah seni grafis. Yakni cetak rakam, cetak timbul, cetak bidang dan tehnik sablon. Empat cara itu hanyalah hasil pengelompokan tehnis kerja etsa, litografi, woodcut dan sebagainya seperti yang telah tersebut di atas.</p>
<p>Adapun tehnik cetak rakam ialah dengan mengukirkan suatu bentuk ke atas sebuah bidang datar. Setelah ukiran selesai, baru tinta cetak dilumurkan di atasnya. Kemudian kertas lunak, atau barang apa pun yang datar dan tak keras dicapkan di situ. Hasilnya tentu telah bisa dibayangkan sendiri. Etsa, woodcut atau harboardcut bisa dimasukkan ke dalam jenis ini.</p>
<p>Cetak timbul paling gampang diambilkan contohnya. Stempel umpamanya. Bidang datar ditatah, hingga subyek yang mau ditampilkan (gambar ataupun huruf) nongol. Baru kertas atau sebangsanya diletakkan dan ditindaskan di atasnya, atau di bawahnya. Setelah tentu saja bidang tertatah itu dibubuhi tinta terlebih dahulu.</p>
<p>Cetak bidang lebih rumit, sebab ia menuntut pengetahuan yang mendalam mengenai kimia. Sebagai contoh bisa diambil litografi. Orang mencoret, menulis atau melukis di atas batu. Kemudian batu diproses dengan zat-zat kimia hingga terkikis seperlunya, sesuai dengan yang dicoretkan seniman di atas batu tersebut. Usai itu, baru kertas dicetakkannya.</p>
<p>Jenis yang terakhir adalah cetak sablon. Cetak ini telah dilakukan orang sejak ratusan yang lalu, dengan cara mengerat-ngerat kertas untuk cetakan. Tehnik yang sangat sederhana ini memang membawa akibat kecil: tidak diakui sebagai kerja seni. Tetapi pendapat itu akhirnya tokh luntur. Pada pertengahan abad 20 sablon diangkat orang sebagai seni. Ia berkembang terus sampai pada tahun 1930 an diketemukan sarangan (saring). Pada masa sesudah Perang Dunia II cetak sablon ini sangat populer, dan banyak dikerjakan orang.</p>
<p>Empat dasar kerja di atas lantas membuahi ide para ahli untuk terus membiakkan seni grafis. Bukan hanya segi estetiknya saja yang berusaha diangkat, tetapi juga segi tehnis atau pelaksanaannya. Dan segi praktisnya. Sementara yang namanya etsa, litografi dan sejenisnya masih bertahan dan masih dikerjakan orang (sebagai &#8216;seni murni&#8217;) dengan tehnik yang boleh dikata tradisional, tehnologi cetak melesat terus ke depan. Cetak timbul melahirkan mesin handpress. Dan tehnik-tehnik lain mengilhami kelahiran mesin-mesin semisal offset, anak tehnologi grafik mutakhir yang akhirnya banyak dipakai. Yang luncur dan lancar. Yang menyebabkan seorang seniman tak lagi terlibat secara langsung dalam proses terjadinya hasil final sebuah karya grafik. Namun hanya terlibat dalam penyusunan, pengorganisasian segala sesuatu elemen grafik. Tidak sebagaimana halnya seniman etsa dan sebagainya itu.</p>
<p>Di sinilah kemudian terlahir istilah &#8220;perancang grafik&#8221;, atau &#8220;grafis designer&#8221;. Ia telah terpisah dari sebutan &#8220;pelaksana grafik&#8221;. Sebab pelaksanaannya telah &#8216;direbut&#8217; oleh mesin-mesin.</p>
<p>TAK AKAN MATI</p>
<p>Karena itulah, terasa sah jika para perancang grafik ini kembali mengambil haknya yang telah berkurang itu dengan pengetengahan martabat yang lebih tinggi, lewat ketrampilannya, lewat kreatifitasnya melahirkan bentuk-bentuk. Bagaimana modernnya mesin, sempurnanya mekanisme kerja sebuah unit offset, tanpa adanya rancangan yang memikat dan artistik, semuanya akan kering dan tak berarti.</p>
<p>Kebangkitan kesadaran para perancang grafik dari keterpisahannya dengan &#8220;pelaksana grafik&#8221;, barangkali merupakan pertanda bahwa: sampai kapanpun yang namanya seni tidaklah akan mati. Semakin besar raksasa tehnologi, semakin membantu dan mengukuhkan eksistensi seni. Sebab grafik pada dasarnya bukan hanya tehnik, tetapi juga manifestasi artistik.</p>
<p>Sumber: Brosur Pameran Pertama Ikatan Perancang Grafis Indonesia “Grafis ‘80”, 24 September-10 Oktober 1980 di Wisma Seni Lingkar Mitra Budaya.</p>
<p>•••</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hgdi.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hgdi.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hgdi.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hgdi.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hgdi.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hgdi.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hgdi.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hgdi.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hgdi.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hgdi.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hgdi.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hgdi.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hgdi.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hgdi.wordpress.com/225/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hgdi.wordpress.com&amp;blog=7589571&amp;post=225&amp;subd=hgdi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/1980-1989-lahirnya-istilah-perancang-grafik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec48f37e3142c8d4ac349568b3ffe183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>1980-1989: IPGI &#8211; Lahirnya Sebuah Horison Baru yang Cerah</title>
		<link>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/1980-1989-ipgi-lahirnya-sebuah-horison-baru-yang-cerah/</link>
		<comments>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/1980-1989-ipgi-lahirnya-sebuah-horison-baru-yang-cerah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 05:53:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[1980-1989]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hgdi.wordpress.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[IPGI &#8211; Lahirnya Sebuah Horison Baru yang Cerah Oleh: J. Leonardo N. A DESIGN IS A PLAN TO MAKE SOMETHING, itu kata Peter Gorb editor Pentagram &#8211; kelompok perancang di Inggris yang membuat berbagai rancangan, dari rancangan lambang sampai rancangan industri. Di Indonesia, bidang perancangan sendiri berkembang dengan pesat, meskipun pengertian orang terhadap bidang perancangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hgdi.wordpress.com&amp;blog=7589571&amp;post=222&amp;subd=hgdi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>IPGI &#8211; Lahirnya Sebuah Horison Baru yang Cerah</strong></p>
<p>Oleh: J. Leonardo N.</p>
<p>A DESIGN IS A PLAN TO MAKE SOMETHING, itu kata Peter Gorb editor Pentagram &#8211; kelompok perancang di Inggris yang membuat berbagai rancangan, dari rancangan lambang sampai rancangan industri. </p>
<p>Di Indonesia, bidang perancangan sendiri berkembang dengan pesat, meskipun pengertian orang terhadap bidang perancangan masih tercampur aduk satu sama lain. Hampir sedikit sekali orang yang menyadari adanya sebuah bidang perancangan yang khusus merencanakan berbagai keperluan manusia, seperti rambu lalu lintas, selembar uang kertas, selembar perangko kecil yang setelah sekian tahun bernilai tinggi sekali, selembar poster, sebuah sampul kaset atau buku atau bahkan sebuah lambang yang kelihatannya begitu mudah dan sederhana.</p>
<p>Beberapa orang yang selama ini berkecimpung di dalam dunia perancangan tersebut &#8211; perancangan grafis &#8211; berkumpul di awal 1980 ini untuk mengeluarkan pendapatnya masing-masing, uneg-uneg dari pengalaman, alasan dan pendapat tentang bidang pekerjaan mereka, dunia pendidikan yang menjadi dasar awalnya dan segala macam lainnya. Semua pemikiran itu dikumpulkan menjadi satu dan dirumuskan menjadi beberapa pemikiran dasar utama yang akan dikembangkan lagi. Dari catatan yang terkumpul tercatat beberapa dasar pemikiran:<br />
- masih tersendat-sendatnya proses kemajuan bidang perancangan grafis di Indonesia, dibandingkan negara-negara lain. Bahkan kita tidak mempunyai &#8216;wajah&#8217; Indonesia untuk itu.<br />
- masih awamnya pengetahuan masyarakat kita sendiri tentang bidang perancangan grafis, sehingga lahir anggapan bahwa bidang tersebut bukan merupakan sebuah ilmu yang tidak jauh berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya, seperti ilmu kedakteran, ilmu sastra, arsitektur dan lain sebagainya. Dan hal ini memang diakui menjadi salah satu alasan mengapa sedikit sekali adanya pendidikan formil untuk itu &#8211; yang ada cuma di STSRI/ASRI Yogyakarta, ITB Seni Rupa Bandung, Trisakti Jakarta dan yang setengah formil adalah di LPKJ Jakarta. Yang sudah menghasilkan sarjana baru ASRI dan ITB saja.</p>
<p>Memang tidak mudah membedakan GRAPHIC DESIGN (= rancangan grafis) dengan GRAPHIC ART (= seni grafis). Kesulitan membedakannya terasa sekali di kalangan masyarakat kita, tanpa kecuali, dari kalangan atas, menengah sampai ke bawah. Hanya mereka yang sering berurusan, berkepentingan dan bekerja sama dengan masalah-masalah kedua bidang itulah yang bisa membedakannya dengan jelas, meskipun toh masih ada yang meraba-raba dalam membedakannya.</p>
<p>Bahkan tidak pula mengherankan apabila, ada orang yang tidak mengerti fungsi dan tugas dari beberapa jabatan seperti art director, designer, graphic designer, artist, draftman, paste-up artist dan lain-lain.</p>
<p>Kesemuanya terus mendesak perasaan mereka yang berkecimpung dalam bidang perancangan grafis untuk membuat dan mencari sebuah cara guna memperluas bidang perancangan grafis dan membuatnya menjadi sebuah pengetahuan yang memasyarakat.</p>
<p>Beberapa kali pertemuan diselenggarakan, dan sampai kemudian 9 orang diantaranya bersedia menjadi Badan Pendiri, mempersiapkan segala sesuatunya selama beberapa bulan &#8211; satu keputusan waktu itu yang terbentuk: sebuah wadah harus dibuat dengan dasar yang kuat. Kesembilan orang itu adalah:<br />
- Bpk. SADJIROEN, perancang grafis uang kertas Rl,<br />
- Bpk. SUTARNO BSc., perancang grafis dari PGI,<br />
- Bpk. Drs. SUPRAPTO MARTOSUHARDJO, perancang grafis perangko Rl,<br />
- Bpk. S.J.H. DAMAIS, pengamat dan orang yang banyak kali terlibat dengan bidang perancangan grafis,<br />
- Bpk. BAMBANG PURWANTO, perancang grafis dari PGI juga,<br />
- Bpk. CHAIRMAN, perancang grafis,<br />
- Bpk. WAGIONO, perancang grafis,<br />
- Bpk. DIDIT C. PURNOMO, perancang grafis,<br />
- dan saya sendiri.</p>
<p>Pertemuan-pertemuan dilanjutkan, berbagai rumusan diuraikan dan dituangkan ke kertas, sampai akhirnya pada tanggal 25 April 1980, berhasil disusun konsep Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan Tata Laku wadah tersebut. Demikian pula susunan pengurus pusat sementara yang sudah langsung diberi beban tanggung jawab untuk bisa melaksanakan program kerja pertama triwulan ke tahun 1980.</p>
<p>Wadah itu diberi nama IKATAN PERANCANG GRAFIS INDONESIA dengan disingkat IPGI. Tanggal pendirian adalah 25 April 1980 tetapi tanggal peresmian adalah tanggal pembukaan Pameran GRAFIS &#8217;80 yang diselenggarakan pada tanggal 24 SEPTEMBER 1980.</p>
<p>Dari Anggaran Dasar IPGI tercatat maksud dan tujuan wadah ini: Melestarikan, menggali dan mengembangkan potensi grafis Indonesia melalui perancangan grafis sebagai sarana kreasi yang komunikatif untuk disajikan baik secara kelompok maupun secara perseorangan dalam forum nasional dan internasional dengan berorientasi pada perancangan grafis yang khas Indonesia.</p>
<p>Dari Tata Laku IPGI juga tercatat rumusan yang dijelaskan mengenai status seorang perancang grafis (anggauta IPGI) dan bidang-bidang yang ditanganinya:<br />
- Perancang grafis adalah seorang ahli yang memiliki beberapa titik pengembangan berdasarkan keahliannya dalam menyusun rancangan grafis.<br />
- Pada dirinya ditemukan hal-hal seperti bakat, kemauan, keinginan untuk maju demi masa depan dirinya dan lingkungannya, kemampuan berdasarkan pendidikan yang pernah diterima &#8211; diolah &#8211; dicernakan olehnya sendiri dengan dukungan dan bantuan lingkungan dan pendidiknya, ataupun kemampuan berdasarkan unsur alamiah yang kemudian dikembangkannya sendiri dengan dukungan dan bantuan lingkungannya, yang disebut sebagai kemampuan alamiah dari pengalaman.<br />
- Berdasarkan fungsi dan tugasnya, yang berdiri di antara dua titik penentu, yakni titik dunia seni yang membutuhkan kejiwaan dan titik dunia eksak yang memerlukan ketekunan dan pengetahuan, maka seorang perancang grafis harus bisa mendisiplinkan, meneguhkan, mengkukuhkan dan mempertahankan dirinya sebagai seorang insan yang hidup di dalam sebuah lingkungan tanpa kecuali, bermodalkan semua yang di milikinya sebagai seorang perancang grafis.<br />
- Pola hidup dan kaidah masyarakat harus dijadikannya pegangan disamping keimanan dan rasa kemanusiaannya berdasarkan hukum dan kaidah agama, bangsa dan negaranya.</p>
<p>Pasal pertama buku Tata laku IPGI mencantumkan 10 bidang gerak perancangan grafis secara mendasar:<br />
1. Typography, termasuk typefaces<br />
2. Lettering &amp; Calligraphy<br />
3. Publicity material<br />
4. Grafis film, televisi dan presentasi audio-visual, terutama untuk sarana pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan<br />
5. Packaging design (rancangan kemasan)<br />
6. Ilustrasi umum<br />
7. Ilustrasi teknik<br />
8. Animasi dan kartun<br />
9. Graphic photography<br />
10. Architectural &amp; environmental graphics.</p>
<p>Sementara itu pada Pasal kedua, tercantum 8 lokasi bidang perancangan grafis sebagai berikut:<br />
Seorang perancang grafis mempunyai bidang pekerjaan di (antara lain):<br />
a. Penerbit<br />
b. Percetakan<br />
c. Perusahaan kemasan<br />
d. Studio grafis<br />
e. Studio film<br />
f. Studio televisi<br />
g. Perusahaan periklanan<br />
h. bekerja bebas (free-lance).</p>
<p>Beberapa pameran SENI GRAFIS memang sudah sering dilakukan sejak beberapa tahun terakhir ini, tetapi sebuah pameran RANCANGAN GRAFIS, baru diadakan untuk pertama kalinya pada tanggal 16 Juni 1980 di Erasmus Huis oleh tiga orang perancang grafis &#8211; HANNY KARDINATA, GAURI NASUTION dan DIDIT CHRIS PURNOMO; dan sebuah pameran rancangan grafis besar dan lebih lengkap diselenggarakan oleh IPGI pada hari ini, 24 SEPTEMBER 1980 di Wisma Seni Mitra Budaya, yang sekaligus merupakan hari dan tanggal peresmian terbentuknya IKATAN PERANCANG GRAFIS INDONESIA.</p>
<p>Dalam program kerja jangka panjang, IPGI juga akan menghubungi para perancang grafis di luar kota Jakarta, dan mengharapkan partisipasi mereka dalam berbagai program kerja di masa periode kepengurusan mendatang.</p>
<p>Melihat maksud dan tujuan serta program kerja IPGI dalam jangka pendek dan panjang, dapatlah dikatakan bahwa hadirnya IPGI di tengah-tengah masyarakat Indonesia akan menjadi sebuah horison baru yang cerah bagi dunia perancangan grafis lndonesia di masa datang.</p>
<p>Sumber: Brosur Pameran Pertama Ikatan Perancang Grafis Indonesia “Grafis ‘80”, 24 September-10 Oktober 1980 di Wisma Seni Lingkar Mitra Budaya.</p>
<p>•••</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hgdi.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hgdi.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hgdi.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hgdi.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hgdi.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hgdi.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hgdi.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hgdi.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hgdi.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hgdi.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hgdi.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hgdi.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hgdi.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hgdi.wordpress.com/222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hgdi.wordpress.com&amp;blog=7589571&amp;post=222&amp;subd=hgdi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/1980-1989-ipgi-lahirnya-sebuah-horison-baru-yang-cerah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec48f37e3142c8d4ac349568b3ffe183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>1980-1989: Pengantar Ikatan Perancang Grafis Indonesia</title>
		<link>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/1980-1989-pengantar-ikatan-perancang-grafis-indonesia/</link>
		<comments>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/1980-1989-pengantar-ikatan-perancang-grafis-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 05:50:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[1980-1989]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hgdi.wordpress.com/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar Ikatan Perancang Grafis Indonesia Pertama-tama atas nama IKATAN PERANCANG GRAFIS INDONESIA, saya mengucapkan terima kasih kepada para hadirin yang sudah meluangkan waktu untuk menghadiri malam pembukaan Pameran GRAFIS &#8217;80 ini, dan kemudian terima kasih kepada LINGKAR MITRA BUDAYA JAKARTA yang sudah banyak sekali membantu kami agar pameran ini bisa terselenggara dengan baik. Malam Pembukaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hgdi.wordpress.com&amp;blog=7589571&amp;post=219&amp;subd=hgdi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pengantar Ikatan Perancang Grafis Indonesia</strong></p>
<p><a href='http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2007/05/logo-ipgi-sadjiroen-1980.gif' title='Logo IPGI'><img src='/files/2007/05/logo-ipgi-sadjiroen-1980.thumbnail.gif' alt='Logo IPGI' /></a></p>
<p>Pertama-tama atas nama IKATAN PERANCANG GRAFIS INDONESIA, saya mengucapkan terima kasih kepada para hadirin yang sudah meluangkan waktu untuk menghadiri malam pembukaan Pameran GRAFIS &#8217;80 ini, dan kemudian terima kasih kepada LINGKAR MITRA BUDAYA JAKARTA yang sudah banyak sekali membantu kami agar pameran ini bisa terselenggara dengan baik. </p>
<p>Malam Pembukaan Pameran GRAFIS &#8217;80 ini sekaligus merupakan saat-saat bersejarah bagi kita semua; sebab malam ini juga merupakan Malam Peresmian berdirinya sebuah wadah organisasi para perancang grafis di Indonesia &#8211; IKATAN PERANCANG GRAFIS INDONESIA &#8211; yang dibentuk dasar-dasar organisasinya beberapa bulan yang lalu.</p>
<p>Untuk itulah, dalam kesempatan ini, saya &#8211; mewakili IPGI &#8211; ingin menyampaikan beberapa hal, baik mengenai pameran ini sendiri, maupun mengenai IPGI.</p>
<p>Pameran GRAFIS &#8217;80 ini sendiri tidak mengutamakan kepada bentuk-bentuk rancangan grafis yang terlalu rumit dan membingungkan. Tujuan utama pameran ini adalah untuk memperkenalkan bidang perancangan grafis &#8211; macamnya, ragamnya, bentuknya, penggunaannya, dan berbagai keterangan lainnya. Katakanlah, dari sebuah lambang sampai ke sebuah poster; dari selembar coretan sampai ke selembar uang kertas yang kita jamah sehari-hari.</p>
<p>Disamping itu, pameran ini juga ingin memperkenalkan IPGI sebagai wadah organisasi perancang grafis. Memang harus kita akui bahwa organisasi ini &#8211; saat ini &#8211; belum berhasil meraih dan mengajak teman-teman perancang grafis dari berbagai daerah lainnya; dan kalau ada alasan yang bisa dikemukakan, barangkali masalah komunikasi dan waktu yang selalu mendesak setiap kesibukan kita masing-masing.</p>
<p>Dengan kerja setengah maraton, dilengkapi dengan beberapa kali pertemuan, maka akhirnya terbentuklah sebuah Badan Pendiri yang beranggautakan 9 orang. Dan dari pertemuan-pertemuan Badan Pendiri inilah kemudian lahir sebuah keputusan untuk merumuskan beberapa program kerja.</p>
<p>Pertama &#8211; harus dibentuk sebuah pengurus sementara untuk bisa melaksanakannya.<br />
Kedua &#8211; kalau pengurus sudah ada, program selanjutnya bisa dikerjakan.<br />
Motto waktu itu adalah &#8211; jalan keluar hanya bisa ditemukan kalau ada kemauan.</p>
<p>Pada tanggal 25 April 1980, pengurus sementara disusun. Dan hasilnya &#8211; untuk sementara &#8211; adalah:<br />
Ketua: Sdr. Wagiono<br />
Wakil Ketua: Sdr. Karnadi<br />
Sekretaris I: Sdr. Didit Chris Purnomo<br />
Sekretaris Il: Sdr. Leonairdo<br />
Bendahara: Sdr. Han S. Kardinata<br />
yang dalam kerjanya dibantu oleh beberapa koordinator bidang yakni:<br />
Bidang Pameran &#8211; Sdr. Harsono dan Sdr. S. Prinka<br />
Bidang Publikasi dan Bulletin &#8211; Sdr. Cahyono<br />
Bidang Hubungan Masyarakat &#8211; Sdr. Agus Dermawan<br />
Bidang Dokumentasi dan Perpustakaan &#8211; Sdr. Helmi<br />
Bidang-Pendidikan dan Ceramah &#8211; Sdr. Han S. Kardinata.</p>
<p>Sementara itu, untuk ikut menyumbangkan buah fikiran dan berbagai macam gagasan, kami telah mendapat kesediaan tiga orang Penasehat:<br />
Bapak Joop Ave<br />
Bapak A.D. Pirous<br />
dan Bapak Adjie Damais.</p>
<p>Dapat kami jelaskan disini beberapa faktor yang menyebabkan mereka, kami minta menjadi penasehat IPGI: Pak Joop Ave dan Pak Adjie Damais &#8211; keduanya banyak sekali terlibat dengan kegiatan rancangan grafis. Bidang perancangari grafis bukan barang asing bagi mereka. Disamping itu, mereka berdua mempunyai minat dan perhatian yang besar terhadap bidang perancangan grafis. Sementara itu, Pak Pirous, dalam kehidupannya beliau ini bukan orang asing lagi di bidang pendidikan perancangan grafis.</p>
<p>Terus terang kami jelaskan disini bahwa pameran ini sama sekali belum lengkap baik dari segi hasil karya, dan demikian pula jumlah para pesertanya. Dalam pameran berikutnya, yang merupakan program kerja kepengurusan IPGI, Insya Allah isi materi pameran dan semua aspeknya akan jauh lebih padat dan memenuhi harapan banyak pihak.</p>
<p>Sebelum kami mengakhiri kesempatan ini, ijinkanlah pula kami mengucapkan terimakasih dan penghargaan kepada:<br />
1. LINGKAR MITRA BUDAYA<br />
2. JAYAKARTA AGUNG OFFSET<br />
3. PT. INDIRA<br />
4. PT. SARANA AKSARA PELITA<br />
5. VISION<br />
6. PGI.<br />
dan semua pihak yang sudah banyak mengulurkan tangan dan membantu kami sehingga malam ini &#8211; dan pameran ini &#8211; bisa terlaksana dan terjadi. Dan juga ingin kami sampaikan maaf kami sedalam-dalamnya atas segala kekurangan yang masih ada.</p>
<p>Terima kasih!</p>
<p>(Sadjiroen)</p>
<p>Sumber: Brosur Pameran Pertama Ikatan Perancang Grafis Indonesia “Grafis ‘80”, 24 September-10 Oktober 1980 di Wisma Seni Lingkar Mitra Budaya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hgdi.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hgdi.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hgdi.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hgdi.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hgdi.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hgdi.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hgdi.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hgdi.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hgdi.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hgdi.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hgdi.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hgdi.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hgdi.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hgdi.wordpress.com/219/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hgdi.wordpress.com&amp;blog=7589571&amp;post=219&amp;subd=hgdi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/1980-1989-pengantar-ikatan-perancang-grafis-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec48f37e3142c8d4ac349568b3ffe183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Romance comics of the 60s</title>
		<link>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/romance-comics-of-the-60s/</link>
		<comments>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/romance-comics-of-the-60s/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 05:32:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[History of Indonesian Comics]]></category>
		<category><![CDATA[Ganes Th]]></category>
		<category><![CDATA[Jan Mintaraga]]></category>
		<category><![CDATA[Zaldy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hgdi.wordpress.com/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[Romance comics of the 60s: A short lived love story &#62; Mariani Dewi, The Jakarta Post, Friday, May 8, 2009: Romance Comics of the 60s: A Short Lived Love Story •••<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hgdi.wordpress.com&amp;blog=7589571&amp;post=141&amp;subd=hgdi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Romance comics of the 60s: A short lived love story</strong><br />
<img src="http://hgdi.files.wordpress.com/2009/05/romance-comics-of-the-60s.jpg?w=600" alt="Romance comics of the 60s" title="Romance comics of the 60s"   class="alignnone size-full wp-image-142" /></p>
<p>&gt; Mariani Dewi, The Jakarta Post, Friday, May 8, 2009: <a href="http://www.thejakartapost.com/node/206022">Romance Comics of the 60s: A Short Lived Love Story</a></p>
<p>•••</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hgdi.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hgdi.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hgdi.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hgdi.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hgdi.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hgdi.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hgdi.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hgdi.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hgdi.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hgdi.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hgdi.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hgdi.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hgdi.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hgdi.wordpress.com/141/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hgdi.wordpress.com&amp;blog=7589571&amp;post=141&amp;subd=hgdi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/romance-comics-of-the-60s/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec48f37e3142c8d4ac349568b3ffe183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hgdi.files.wordpress.com/2009/05/romance-comics-of-the-60s.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Romance comics of the 60s</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>1900s: Stephanus Setiawan (1938-2006)</title>
		<link>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/1900s-stephanus-setiawan-1938-2006/</link>
		<comments>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/1900s-stephanus-setiawan-1938-2006/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 05:28:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[1900s]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hgdi.wordpress.com/?p=202</guid>
		<description><![CDATA[Stephanus Setiawan (1938-2006) † 13 April 2006 Kematiannya menyentak kalbu. Jum&#8217;at siang 14 April 2006 itu saya sedang bersiap checkout dari hotel di Balikpapan untuk terbang kembali ke Portland, Oregon. Tiba-tiba masuk sms dari Hanny lewat Singgih bahwa Setiawan telah wafat dan langsung akan dimakamkan siang itu juga. Meninggalkan istri (Marlina), dua putra (Valerian dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hgdi.wordpress.com&amp;blog=7589571&amp;post=202&amp;subd=hgdi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Stephanus Setiawan (1938-2006)</strong></p>
<p><a href='http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2007/05/setiawan-1978.gif' title='Stephanus Setiawan'><img src='/files/2007/05/setiawan-1978.thumbnail.gif' alt='Stephanus Setiawan' /></a></p>
<p>† 13 April 2006</p>
<p>Kematiannya menyentak kalbu. Jum&#8217;at siang 14 April 2006 itu saya sedang bersiap checkout dari hotel di Balikpapan untuk terbang kembali ke Portland, Oregon. Tiba-tiba masuk sms dari Hanny lewat Singgih bahwa Setiawan telah wafat dan langsung akan dimakamkan siang itu juga. Meninggalkan istri (Marlina), dua putra (Valerian dan Mirokolas) serta lusinan teman, begitulah gayanya dalam kehidupan dan kematian: serba lugas, polos, tanpa basa-basi. Seperti kata Chairil Anwar dalam puisi Aku: </p>
<p>         <em>Kalau sampai waktuku<br />
         Ku mau tak seorang kan merayu<br />
         Tidak juga kau<br />
         Tak perlu sedu sedan itu…</em></p>
<p>Jelas bahwa Setiawan sama sekali bukan mahluk seperti yang digambarkan Chairil Anwar. Justru sebaliknya. Di balik sikap yang lugas dan polos, tersembunyi pribadi yang hangat, bernurani, mementingkan persahabatan yang tulus, murah hati, dan suka menolong siapapun tanpa pamrih. Meski kadang-kadang terkesan agak tidak sabar menghadapi kebodohan dan kemalasan, dia memperlakukan semua manusia setara, tanpa sedikitpun menghiraukan perbedaan pangkat, agama, ras, status ekonomi atau sosial.  </p>
<p>Dia seorang kutu buku yang selalu pro-aktif memperluas wawasannya. Waktu senggang hari-hari bujangan kami habis untuk &#8220;menjarah&#8221; hampir semua toko buku dan kaset di Jakarta. Misalnya anda mencari buku The Stranger karangan Albert Camus. Percuma saja bertanya pada penjaga tokobuku yang hanya bisa bengong, karena Setiawan yang lebih tahu persis di bagian apa dan rak mana tempatnya. Di tahun 1970an, dia sudah melahap dan melalap Nietzsche, Malraux, Gide, Marx, Sartre, Tolstoy, Dostoevsky, dan Solzhenitsyn dalam bahasa Inggris, lama sebelum karya-karya mereka diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. </p>
<p>Bukan hanya buku. Sewaktu tempurung kepala saya hanya terbatas pada Bach, Mozart, dan Beethoven, dia menendangnya dan memasukkan Satie, Faure, Scriabin, dan entah siapa lagi ke dalamnya. Namun dia bukan seorang snob yang elitis, dan dapat bicara tentang Motinggo Boesye dan mengagumi keplastisan cerita-cerita silat terjemahan Boe Beng Tjoe. Meskipun tidak pernah membaca cerita-cerita silat, dia pernah bersabar menemani saya menonton Sien Tiauw Hiap Lu (Bagian I dan II) selama 2 x 3 jam di sebuah bioskop di Semarang dalam satu hari!  </p>
<p>Berpikiran luas, berwawasan liberal, dan berselera humor tinggi, kearifannya menjadi magnet di tengah kejenuhan hidup sehari-hari. Matanya yang besar, bening, dan jenaka, dengan ekspresi baby face memancarkan keceriaan yang hidup dan kecerdasan yang intuitif. Meski tidak menyandang gelar akademis formal, semangat otodidak, gairah membaca, dan kehausan menonton film membuat siapapun perlu memperhitungkan pendapatnya yang berbobot, segar dan provokatif  &#8211; baik dalam acara sumbang saran kreatif maupun diskusi santai. Di tengah segala kepalsuan basa-basi dan formalitas yang menyesakkan, pendapatnya yang selalu terus terang merupakan oasis segar di tengah tandusnya gurun status quo. Selera humornya yang tinggi selalu mampu menangkap nuansa tragis dari suatu komedi, dan nuansa komikal dari suatu tragedi. Dia bisa bersikap filosofis tanpa berpretensi untuk sok berfalsafah. Dia bisa menertawakan absurditas dan ironi kehidupan, apa saja siapa saja, termasuk dirinya sendiri. Seorang intelektual sejati, dia lebih banyak menggunakan tanda tanya dengan bercanda daripada tanda seru dengan serius. </p>
<p>Amat percaya akan pentingnya intellectual empowerment dan cultural enrichment bagi seorang graphic designer atau copywriter atau siapa saja yang mau mengembangkan diri, dia menjadi seorang mentor yang ideal dan produktif, bukan meskipun, tetapi justru karena latar belakangnya yang unik. Ketika saya kurang percaya diri, dialah yang terus mendorong agar saya terus menulis, baik sebagai copywriter maupun kolumnis. </p>
<p><a href='http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2007/05/ill-prisma-setiawan-1-1977.gif' title='Ilustrasi 1 - Majalah Prisma No. 3, Maret 1977, Tahun VI'>Ilustrasi 1 &#8211; Majalah Prisma No. 3, Maret 1977, Tahun VI</a></p>
<p><a href='http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2007/05/ill-prisma-setiawan-2-1977.gif' title='Ilustrasi 2 - Majalah Prisma No. 3, Maret 1977, Tahun VI'>Ilustrasi 2 &#8211; Majalah Prisma No. 3, Maret 1977, Tahun VI</a></p>
<p>Lahir di Wonosobo 10 Maret 1938 (sering saya goda dengan julukan Homo Wonosoboensis) dia dibesarkan dalam keluarga sederhana. Ayahnya seorang supir, ibunya praktis buta huruf &#8211; karena belum sempat menikmati buah emansipasi pendidikan yang diperjuangkan Raden Kartini. Namun, dasar berjiwa pemberontak, sejak awal dia menolak terbelenggu oleh keterbatasan lingkungannya. Mungkin karena bakat alamnya, Setiawan sudah mulai mencoret-coret sketsa sambil membantu ibunya menunggui kios di sebuah pasar Wonosobo. Kecintaannya pada seni sejak kecil tidak hanya terbatas pada seni grafis, namun juga mencakup seni musik klasik. Di zaman Belanda, kebetulan sepasang suami-istri Prancis yang menjadi konsultan teknis pembangunan sebuah bendungan dekat Wonosobo menjadi tetangganya. Mereka biasa memutar piringan-piringan hitam berbagai konserto piano Saint-Saëns dan Beethoven. Setiawan begitu terpesona dan terpikat oleh keindahan puitis dan melodius maha-maha karya piano ini yang seharusnya asing baginya, hingga dia menembus pagar dan bersembunyi di bawah jendela untuk mencuri-dengar. Apa boleh buat, pada suatu hari istri pasangan Prancis itu berhasil memergokinya dan justru dengan lembut mempersilakan Setiawan untuk masuk ke dalam rumah mereka untuk menikmatinya. </p>
<p>Apresiasi seni yang tinggi, bakat artistik, naluri estetika, dan kemauan kuat untuk terus mengembangkan wawasan, membuat Setiawan mendobrak awal yang sederhana di Wonosobo hingga akhirnya menjadi Art &amp; Creative Director yang produktif dan disegani di Jakarta. Namun siapapun yang mengenalnya tahu bahwa dia tidak pernah terpukau oleh segala pangkat dan jabatan suatu struktur organisasi yang fana. Warisannya yang paling utama ialah semua orang yang pernah dibimbingnya dengan falsafah tut wuri handayani. Lagi-lagi, seperti kata Chairil Anwar:   </p>
<p>         <em>Biar peluru menembus kulitku<br />
         Aku tetap meradang menerjang<br />
         Luka dan bisa kubawa berlari<br />
         Berlari<br />
         Hingga hilang pedih peri<br />
         Dan aku akan lebih tidak peduli<br />
         Aku mau hidup seribu tahun lagi</em></p>
<p>Setiawan memang tidak sempat hidup seribu tahun lagi, namun sepanjang hidupnya dia berlari hingga hilang pedih peri. Dia akan terus hidup dalam kenangan Marlina, Valerian, dan Mirokolas, serta banyak teman, rekan kerja, graphic designer, ilustrator, copywriter yang selalu akan merasa berhutang budi padanya untuk persahabatannya yang tulus dan bimbingannya yang arif *). Kemurahan hati dan persahabatannya telah membuka pikiran, hati, mata, telinga, dan potensi siapa saja yang beruntung pernah mengenalnya. Dia tidak berada di antara kita lagi, namun setiap kali mendengar dentingan piano Claudio Arrau yang memainkan Appassionata ciptaan Beethoven, atau Yesterday Once More suara Karen Carpenter, mau tidak mau saya selalu terkenang pada pribadi yang tulus dengan sepasang mata yang bening dan jenaka. Adios, Amigo. </p>
<p>Copyright © 2007 Johannes Tan, salah seorang sahabat Setiawan</p>
<p>*) Di antaranya adalah Lesin yang pernah belajar darinya selama magang di in-house studio milik PT Tempo (Sumber: Majalah Desain Grafis &#8220;Concept&#8221;, Vol. 3 Edisi 13, 2006)</p>
<p><a href='http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2007/05/setiawan-hanny.gif' title='Setiawan dan Hanny berpose di Cibodas, di bawah siraman abu Gunung Galunggung yang batuk-batuk, 1982.'>Setiawan dan Hanny berpose di Cibodas, di bawah siraman abu Gunung Galunggung yang batuk-batuk, 1982.</a></p>
<p><a href='http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2007/05/setiawan-johannes-hanny.gif' title='Reuni tiga serangkai mantan “penjarah” tokobuku di Jakarta antara tahun 1975 dan 1983: Setiawan, Johannes, Hanny di restoran Dapoer Tempo Doeloe, 2002 (atau 2003?).'>Reuni tiga serangkai mantan “penjarah” tokobuku di Jakarta antara tahun 1975 dan 1983: Setiawan, Johannes, Hanny di restoran Dapoer Tempo Doeloe, 2002 (atau 2003?).</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hgdi.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hgdi.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hgdi.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hgdi.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hgdi.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hgdi.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hgdi.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hgdi.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hgdi.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hgdi.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hgdi.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hgdi.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hgdi.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hgdi.wordpress.com/202/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hgdi.wordpress.com&amp;blog=7589571&amp;post=202&amp;subd=hgdi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/1900s-stephanus-setiawan-1938-2006/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec48f37e3142c8d4ac349568b3ffe183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>1980-1989: Informatif, Juga Indah</title>
		<link>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/1980-1989-informatif-juga-indah/</link>
		<comments>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/1980-1989-informatif-juga-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 05:28:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[1980-1989]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hgdi.wordpress.com/?p=207</guid>
		<description><![CDATA[Informatif, Juga Indah Hampir di semua kegiatan hidup kita terlibat karya grafis yang dihasilkan lewat proses cetak. Uang kertas, majalah, undangan&#8230; Perkembangan rancang grafis makin menarik. Oleh: Priyanto Sunarto Mulai berkembang yang disebut seni grafis &#8211; seni yang mengandalkan teknik cetak. Telah muncul sejumlah grafikus, dan Senirupa ITB misalnya telah lama pula membuka jurusan itu. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hgdi.wordpress.com&amp;blog=7589571&amp;post=207&amp;subd=hgdi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Informatif, Juga Indah</strong></p>
<p>Hampir di semua kegiatan hidup kita terlibat karya grafis yang dihasilkan lewat proses cetak. Uang kertas, majalah, undangan&#8230; Perkembangan rancang grafis makin menarik.</p>
<p>Oleh: Priyanto Sunarto</p>
<p>Mulai berkembang yang disebut seni grafis &#8211; seni yang mengandalkan teknik cetak. Telah muncul sejumlah grafikus, dan Senirupa ITB misalnya telah lama pula membuka jurusan itu.</p>
<p>Kini muncul pula ‘rancangan grafis’. Seperti yang dipamerkan di Erasmus Huis 16-24 Juni oleh Didit, Hanny dan Gauri, ternyata itu merupakan rancangan karya grafis yang dimaksud sebagai seni pakai.</p>
<p>Tuntutan pertama sebuah rancangan grafis: seberapa jauh dapat berkomunikasi dengan khalayak. Bagi seorang perancang grafis motto yang dipegang adalah: rancangan yang baik memberi informasi secara lancar dan jelas, sedang bentuk visualnya menarik.</p>
<p>Tentu saja wajar, bila dari generasi ke generasi yang disebut menarik ternyata berbeda-beda. Rencana sampul majalah, undangan, ilustrasi dulu, sebut saja sebelum perang, sangat formal. Komposisi biasanya simetris, huruf-huruf seragam, warna sederhana.</p>
<p>Perkembangannya: di masa sekarang muncul rancangan grafis yang lebih santai, lebih bermain dan lebih meriah. Tentu kadar penekanan tiap unsur bisa berbeda-beda pula. Sampul majalah ini misalnya, yang memberi citra bersih, tidak banyak pretensi bermainnya &#8211; sesuai dengan sifatnya yang majalah berita. Yang pertama kali perlu informasi yang disampaikan, meski sama sekali tidak mengabaikan unsur pemikat mata.</p>
<p>Berbeda sekali dengan rancangan sampul majalah Visi, yang dibuat oleh Gauri Nasution, 30 tahun. Sebagai majalah hiburan sangatlah cocok permainan suasana sampul yang meriah dan warna yang menyolok. Bahkan halaman dalamnya disusun sangat permai. Banyak variasi: ada halaman dengan kertas berwarna, ada pula halaman yang dilubangi membentuk gambar.</p>
<p>Gambar ilustrasi pun oleh generasi masa kini dibuat demikian rupa, dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dan kemungkinan teknik cetak. Permainan efek cat air, olahan fotografis atau teknik cetak semprot, bisa memberi bentuk yang dulu barangkali terpikirkan pun tidak.</p>
<p>Hanny Kardinata, 27 tahun, lulusan jurusan Seni-Reklame STSRI Asri, Yogya, dalam berbagai rancangannya memanfaatkan teknik-teknik tersebut. Dalam merancang sampul kaset musik Guruh misalnya.</p>
<p>Profil Bung Karno<br />
Perancang satu lagi, Didit, 30 tahun, lebih banyak mengolah bentuk lambang. Ia memang tertarik pada lambang. Tulisnya pada katalogus: Membuat lambang adalah proses panjang yang rumit dan menarik.”</p>
<p>Profil Bung Karno, oleh Didit &#8211; yang sealmamater dengan Hanny dipakai untuk mewakili segala sesuatu yang ada hubungannya dengan tokoh tersebut. Tentu, Didit dalam merancang mempelajari pula karakter dan aspirasi sang tokoh, di samping dunia yang diwakilinya. Kemudian memilih yang akan ditonjolkan dalam lambang, dan semuanya diolah dalam bentuk sesederhana mungkin agar cepat ditangkap.</p>
<p>Perhatian yang kini diberikan kepada rancangan grafis, lebih dari dulu, mungkin disebabkan karena generasi masa kini dikaruniai teknologi cetak-mencetak yang memberi berbagai kemungkinan. Mereka tak lagi bersikap ‘kaku’ seperti ayah mereka. Mereka menuntut, selain penyampaian informasi yang akurat, juga cara penyampaian yang menyenangkan. Sebuah bungkus rokok selain berfungsi melindungi isinya diharap bisa juga menjadi penambah semarak meja &#8211; tempat rokok itu kadang-kadang diletakkan. Juga sebuah majalah, kecuali untuk dibaca, adalah sesuatu yang menyenangkan untuk dilihat-lihat.</p>
<p>Sumber: Majalah Tempo, 28 Juni 1980, halaman 24.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hgdi.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hgdi.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hgdi.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hgdi.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hgdi.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hgdi.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hgdi.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hgdi.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hgdi.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hgdi.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hgdi.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hgdi.wordpress.com/207/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hgdi.wordpress.com/207/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hgdi.wordpress.com/207/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hgdi.wordpress.com&amp;blog=7589571&amp;post=207&amp;subd=hgdi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/1980-1989-informatif-juga-indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec48f37e3142c8d4ac349568b3ffe183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>1980-1989: Hubungan Rancangan Grafis dengan Seni Copet</title>
		<link>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/1980-1989-hubungan-rancangan-grafis-dengan-seni-copet/</link>
		<comments>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/1980-1989-hubungan-rancangan-grafis-dengan-seni-copet/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 05:25:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[1980-1989]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hgdi.wordpress.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Hubungan Rancangan Grafis dengan Seni Copet Introduksi singkat pengantar pameran bersama tiga perancang grafis: Hanny Kardinata, Gauri Nasution, Didit Chris Purnomo, 16-24 Juni 1980, Erasmus Huis, jalan Menteng Raya 25, Jakarta Pusat Give me a piece of paper, a pen, and ink; and I will revolutionize the world&#8230; -FRIEDRICH NIETZCHE (1844-1900) MAAF&#8230; Bila kutipan Nietzche [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hgdi.wordpress.com&amp;blog=7589571&amp;post=204&amp;subd=hgdi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hubungan Rancangan Grafis dengan Seni Copet</strong></p>
<p><a href='http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2007/05/logo-pameran-1980-1.gif' title='Logo “Pameran Rancangan Grafis ‘80 Hanny, Gauri, Didit"'><img src='/files/2007/05/logo-pameran-1980-1.thumbnail.gif' alt='Logo “Pameran Rancangan Grafis ‘80 Hanny, Gauri, Didit"' /></a></p>
<p>Introduksi singkat pengantar pameran bersama tiga perancang grafis: <a href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2007/05/30/pameran-rancangan-grafis-hanny-gauri-didit/">Hanny Kardinata, Gauri Nasution, Didit Chris Purnomo</a>, 16-24 Juni 1980, Erasmus Huis, jalan Menteng Raya 25, Jakarta Pusat</p>
<p>Give me a piece of paper,<br />
a pen,<br />
and ink;<br />
and I will revolutionize the world&#8230;<br />
-FRIEDRICH NIETZCHE (1844-1900)</p>
<p>MAAF&#8230;<br />
Bila kutipan Nietzche di halaman depan tadi terlalu bombas. Sorry, bila anda juga jenuh dengan perkataan “seni” itu sendiri. Yah, apa-apa mau disebut seni. Seni lukis. Seni musik. Seni peran, Seni foto. Hidup pun kadang-kadang juga disebut sebagai suatu seni. Bahkan seni-copet pun diakui eksistensinya. Dan kini, seolah-olah masih kekurangan segala macam seni, kita membahas seni dalam perancangan grafis secara singkat&#8230;</p>
<p>KENAPA?<br />
Mungkin anda tidak, atau belum, mengetahui pentingnya arti dan fungsi perancangan grafis dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, peradaban dan kebudayaan manusia sudah terjalin begitu erat dengan rancangan grafis, hingga kehadirannya hampir tidak disadari lagi.</p>
<p>AH&#8230; MASA?<br />
Misalnya anda mengirimkan fotokopi ijazah sekolah anda keluar kota melalui pos, untuk suatu keperluan. Tindakan yang sederhana ini saja sudah melibatkan anda dengan perancangan grafis secara cukup mendalam.</p>
<p>Ijazah anda merupakan produk perancangan grafis. Uang yang anda berikan pada supir taxi sebagai pembayar ongkos ke kantor-pos adalah produk perancangan grafis juga; yang satu ini sangat disukai tukang-tukang copet! (Jadi, tukang copet sebetulnya punya apresiasi seni yang lumayan juga; karena mereka pun tidak sembarang main comot!) Perangko yang anda tempelkan pada amplop yang anda kirimkan, lagi-lagi juga merupakan produk perancangan grafis.</p>
<p>Turun dari taxi, anda segera dikerubuti penjual-penjual berbagai benda-pos dan kartu-kartu ucapan selamat: lagi-lagi produk perancangan grafis! Memasuki gedung kantor-pos, anda dihadang berbagai poster dalambermacam ukuran dan rancangan; ah! produk perancangan grafis lagi!</p>
<p>Sampul kaset, kalender, majalah, buku dan bahkan booklet yang sedang anda genggam ini; semuanya termasuk produk-produk perancangan grafis. Terlalu banyak untuk disebutkan satu-persatu.</p>
<p>LALU APA?<br />
Pameran ini bermaksud memberikan gambaran akan proses kreatif berbagai hasil perancangan grafis. Dari selembar kertas kosong, pena dan tinta &#8211; meminjam istilah Nietzche &#8211; sampai, ya, sebut saja apa! Pokoknya dari “nol” sampai “jadi”.</p>
<p>LHO!<br />
&#8230; katanya sudah cukup banyak produk-produk perancangan grafis yang mengelilingi kita dalam kehidupan sehari-hari. Lalu buat apa dipamerkan lagi dalam suatu pameran khusus?</p>
<p>ADA YANG MENARIK!<br />
Ketika Coca-Cola membobolkan benteng pertahanan Cina; hampir semua koran top dunia memberitakan keberhasilan penyerbuan ini dalam halaman-halaman utama. Tulisan Coca-Cola dalam logotype orisinil direndengkan denganversi bahasa Cinan-nya.<br />
Sebuah sukses pemasaran?<br />
Memang.<br />
Sebuah prestasi diplomatik?<br />
Tidak bisa disangkal.<br />
Sebuah revolusi kebudayaan hidup?<br />
Begitulah.</p>
<p>Tetapi orang yang paling bangga di dunia ini, barangkali adalah perancang grafis yang mencipta logotype Coca-Cola itu. Karena di balik logotype yang cuma beberapa senti itu, sesungguhnya tersembunyi suatu proses kreatifitas yang panjang dan rumit, tetapi cukup menarik. Menarik untuk diketahui. Menarik untuk dinikmati.</p>
<p>Proses kreatif inilah yang kini kami perlihatkan kepada anda.</p>
<p>SELAMAT MENYAKSIKAN!</p>
<p>Sumber: Brosur “Pameran Rancangan Grafis ‘80 Hanny, Gauri, Didit” yang ditulis oleh Johannes Tan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hgdi.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hgdi.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hgdi.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hgdi.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hgdi.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hgdi.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hgdi.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hgdi.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hgdi.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hgdi.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hgdi.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hgdi.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hgdi.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hgdi.wordpress.com/204/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hgdi.wordpress.com&amp;blog=7589571&amp;post=204&amp;subd=hgdi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/1980-1989-hubungan-rancangan-grafis-dengan-seni-copet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec48f37e3142c8d4ac349568b3ffe183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>1980-1989: Karya Lima Desainer Grafis Indonesia Angkatan &#8217;70 pada Majalah Desain Jepang &#8220;Tategumi Yokogumi&#8221; Edisi #21</title>
		<link>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/1980-1989-karya-lima-desainer-grafis-indonesia-angkatan-70-pada-majalah-desain-jepang-tategumi-yokogumi-edisi-21/</link>
		<comments>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/1980-1989-karya-lima-desainer-grafis-indonesia-angkatan-70-pada-majalah-desain-jepang-tategumi-yokogumi-edisi-21/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 03:39:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[1980-1989]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hgdi.wordpress.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[Karya Lima Desainer Grafis Indonesia Angkatan &#8217;70 pada Majalah Desain Jepang &#8220;Tategumi Yokogumi&#8221; Edisi #21 Suatu hari di tahun 1988, editor majalah desain Jepang &#8220;Tategumi Yokogumi&#8221; tiba di Jakarta untuk mewawancarai 5 (lima) desainer grafis Indonesia: Wagiono Sunarto, Tjahjono Abdi, Gauri Nasution, FX Harsono dan Hanny Kardinata. Kelima desainer tersebut diwawancarai – pada saat yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hgdi.wordpress.com&amp;blog=7589571&amp;post=160&amp;subd=hgdi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Karya Lima Desainer Grafis Indonesia Angkatan &#8217;70 pada Majalah Desain Jepang &#8220;Tategumi Yokogumi&#8221; Edisi #21</strong></p>
<p>Suatu hari di tahun 1988, editor majalah desain Jepang &#8220;Tategumi Yokogumi&#8221; tiba di Jakarta untuk mewawancarai 5 (lima) desainer grafis Indonesia: <a href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2007/04/22/wagiono-sunarto/">Wagiono Sunarto</a>, <a href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2007/05/07/arief-tjahjono-abdi-1952-2005/">Tjahjono Abdi</a>, <a href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2007/04/22/gauri-nasution/">Gauri Nasution</a>, <a href="http://universes-in-universe.org/eng/intartdata/artists/asia/idn/harsono">FX Harsono</a> dan <a href="http://hannykardinata.wordpress.com/">Hanny Kardinata</a>. Kelima desainer tersebut diwawancarai – pada saat yang bersamaan di sebuah hotel di Jakarta – untuk edisi #21 yang membahas isu desain grafis di Asia, termasuk di antaranya desainer-desainer dari Korea (Seoul), Taiwan (Taipei), China (Guang Zhou), Hong Kong, Singapore, Indonesia (Jakarta), India (Bombay) dan Israel (Tel Aviv dan Jerusalem), sebelum dilanjutkan ke studio tiap desainer.</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/04/tategumi-12.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/04/tategumi-12.gif?w=600&#038;h=782" alt="tategumi-12" title="tategumi-12" width="600" height="782" class="alignnone size-full wp-image-7459" /></a></p>
<p>Ini adalah bagian yang memuat karya-karya desainer grafis dari Indonesia. Pada halaman 16 Edisi #21 ditampilkan berturut-turut karya Hanny Kardinata dan Wagiono Sunarto.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/04/tategumi-22.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/04/tategumi-22.gif?w=600&#038;h=802" alt="tategumi-22" title="tategumi-22" width="600" height="802" class="alignnone size-full wp-image-7461" /></a></p>
<p>Dan pada halaman 17 berturut-turut karya Tjahjono Abdi, Gauri Nasution dan FX Harsono. Kelima desainer juga digambarkan sedang bekerja di studionya masing-masing.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/04/cover-tategumi-2.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/04/cover-tategumi-2.gif?w=600" alt="cover-tategumi-2" title="cover-tategumi-2"   class="alignnone size-full wp-image-7463" /></a><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/04/cover-tategumi-1.gif"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/04/cover-tategumi-1.gif?w=600" alt="cover-tategumi-1" title="cover-tategumi-1"   class="alignnone size-full wp-image-7464" /></a></p>
<p>Cover (back+front) &#8220;Tategumi Yokogumi&#8221; Edisi #21 Summer 1988 Morisawa.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p>Ditulis oleh <a href="http://hannykardinata.wordpress.com/">Hanny Kardinata</a>.</p>
<p>•••</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hgdi.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hgdi.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hgdi.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hgdi.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hgdi.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hgdi.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hgdi.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hgdi.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hgdi.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hgdi.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hgdi.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hgdi.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hgdi.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hgdi.wordpress.com/160/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hgdi.wordpress.com&amp;blog=7589571&amp;post=160&amp;subd=hgdi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/1980-1989-karya-lima-desainer-grafis-indonesia-angkatan-70-pada-majalah-desain-jepang-tategumi-yokogumi-edisi-21/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec48f37e3142c8d4ac349568b3ffe183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/04/tategumi-12.gif" medium="image">
			<media:title type="html">tategumi-12</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/04/tategumi-22.gif" medium="image">
			<media:title type="html">tategumi-22</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/04/cover-tategumi-2.gif" medium="image">
			<media:title type="html">cover-tategumi-2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/04/cover-tategumi-1.gif" medium="image">
			<media:title type="html">cover-tategumi-1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Timeline for Indonesian Graphic Design History</title>
		<link>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/timeline-for-indonesian-graphic-design-history/</link>
		<comments>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/timeline-for-indonesian-graphic-design-history/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 03:24:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Timeline for Indonesian Graphic Design History]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hgdi.wordpress.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;&#8230; it is necessary for designers to have the grounding provided by historical knowledge to avoid reinvention and pagiarism.&#8221; &#8211; Steven Heller, Graphic Design History . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hgdi.wordpress.com&amp;blog=7589571&amp;post=152&amp;subd=hgdi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;&#8230; it is necessary for designers to have the grounding provided by historical knowledge to avoid reinvention and pagiarism.&#8221;</em> &#8211; Steven Heller, Graphic Design History</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>1600-an</strong></p>
<p>The art of printing was introduced into the archipelago in the 1600s. The two factors that brought about the establishment of the printing press under Dutch rule were:</p>
<p>• To multiply the legal regulations contained in official proclamations on a large scale by printing them, since this saved both time and money.<br />
• The Dutch Reformed Church, to pursue its missionary work among the natives, had urgent need of books and tracts for educational work, while one of its chief aims was a vernacular translation of the Holy Scriptures.</p>
<p><a href='http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2007/12/dgi-1.gif' title='dgi-1.gif'>dgi-1.gif</a></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>1744</strong></p>
<p>Iklan pertama di Jakarta (baca: Batavia) muncul pada tanggal 17 Agustus 1744 bersamaan dengan terbitnya surat kabar pertama oleh pemerintah Hindia Belanda. Iklan itu, awalnya adalah sebuah berita yang ditulis indah dengan tangan oleh Jan Pieterzoen Coen (Gubernur Jenderal Hindia Belanda tahun 1619-1629), dengan judul Memorie De Nouvelles, yang ditujukan kepada pemerintah setempat di Ambon untuk melawan aktivitas perdagangan Portugis. Tulisan itu kemudian dipasang sebagai iklan oleh karyawan sekretariat kantor Gubernur Jenderal Imhoff, Jourdans di surat kabar Bataviaasche Nouvelles.</p>
<p>Sumber: &#8220;Sejarah Periklanan Indonesia 1744-1984&#8243;, Bab I, Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>1825</strong></p>
<p>The deployment of advertising to promote was also used by merchants to bolster up their sales. In 1825, advertisements of traditional medicines were found in the pages of Tjabaja Siang, a local newspaper in Minahasa. Tjabaja Siang was the first publisher owned by the native people. Its advertisements were also published in some media in The Netherlands.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>1870</strong></p>
<p>First Brochures<br />
The growth of advertising during the Dutch Indies period had a lot to do with the growth of the economy in the region. In 1870, many Dutch investors came to invest their money in plantation and mine industries. The situation forced them to form a research foundation in order to extend and accumulate their capital. Suikersyndicaat, a sugar association, was one of them. They were the first organization that made promotional brochures to attract prospective investors. Another organization was the Javaasche Bank which also used printed materials as the media of promotion. The brochures and booklets were mostly printed by G.C.T. van Dorp &amp; Co, which was located in Jakarta, Semarang and Surabaya.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>1893</strong></p>
<p>Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Percetakan Negara di Jakarta, pada waktu itu yang terbesar di Asia. Sementara itu di seluruh Indonesia sudah terdapat 6500 percetakan, 2700 di antaranya terdapat di Jakarta. Industri grafika dan dunia penerbitan di Indonesia pada waktu itu sudah mulai menyadari pentingnya desain grafis.</p>
<p>Laribu Meyoko, sekretaris Percetakan Negara: “Mengapa desain itu penting? Barang cetakan sama seperti manusia: penampilan lahiriahnya yang penting. Untuk memberi kesan yang baik, untuk menarik perhatian, untuk memberi kepercayaan. Desain grafis di Indonesia mempunyai masa depan gemilang.”</p>
<p>Sumber: Buku “Nederland Indonesia, 1945-1995, Suatu Pertalian Budaya&#8221;, [Z]OO produkties, Den Haag, 1995, hal. 165.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>1901</strong></p>
<p>N.V. Tjong Hok Long was the first ad agency founded in 1901 by the Chinese. In the beginning they created many ads for comic books which were also printed by the agency. Later, they created ads for other products such as batiks, soaps, cigarettes, and medicines. The ads they produced were mostly handwritten and very plain.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>1905</strong></p>
<p>In 1905, Aneta, a news agency was founded. The agency had its own advertising department and was very advanced not only in facilities but also in the manpower that came from Europe. Some of its creative people were F. Van Bemmel, Is. Van Mens and Cor van Deutekom who did advertisements for big clients such as Bataafche Petroleum in Surabaya, General Motors and Koninklijke Pakevaart Maatschappij in Batavia.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>Pre-Japanese Occupation</strong></p>
<p>The world economic depression in 1929-1930 had a big influence on the advertising industry in the Dutch Indies. Many foreign companies had to stop their campaigns and big agencies lost a lot of money. But many smaller agencies still survived because most of their clients came from small industries like cigarettes, soaps and powders. The situation got better in the years 1930-1942. Industries were back in shape. Many products were imported from Europe and US like Ford cars, Philips radios, and several other brands from watches, milk to health products. Many advertising agencies were keen again. Some of them even started to apply a &#8216;new method&#8217; to their ads which is now called product/brand positioning. Success Advertising, for example, positioned its client, Philips, as a brand for economical products. And so was the Listerine ad, which positioned itself as the toothpaste to cure any dental problems. The ad used a Caucasian male model, smiling widely, showing his healthy, clean, white teeth.</p>
<p>Until 1940, manufactured products dominated the Dutch Indies market. Most of them were everyday products or home appliances imported from Europe, Japan and US.</p>
<p>Source: Sejarah Periklanan Indonesia</p>
<p><a href='http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2007/12/dgi-2.gif' title='dgi-2.gif'>dgi-2.gif</a></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>1980</strong></p>
<p>Pada tanggal 16-24 Juni 1980 di Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, jalan Menteng Raya 25, Jakarta diselenggarakan pameran desain grafis oleh tiga desainer grafis Indonesia: Gauri Nasution, Didit Chris Purnomo dan Hanny Kardinata, bertajuk “Pameran Rancangan Grafis ‘80 Hanny, Gauri, Didit”. Pameran ini membawa misi utama memperkenalkan profesi desainer grafis ke masyarakat luas serta tercatat sebagai pameran desain grafis pertama di Indonesia yang diadakan oleh desainer-desainer grafis Indonesia (&#8220;Pameran Rancangan Grafis Hanny, Gauri, Didit &#8211; Mau Merubah Dunia&#8221;, Agus Dermawan T, Kompas, 25 Juni 1980, hal. 6). Pameran ini menampilkan bukan saja hasil akhir produk desain grafis (logo, tipografi, layout majalah, ilustrasi, poster, sampul buku, sampul kaset dll), tetapi juga proses kreatif serta proses cetaknya.</p>
<p><a href='http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2007/04/didit-hanny-gauri-1980.gif' title='Didit, Hanny dan Gauri.'>Pameran Rancangan Grafis ‘80 Hanny, Gauri, Didit. Ki-ka: Didit, Hanny dan Gauri.</a></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>1980</strong></p>
<p>Ikatan Perancang Grafis Indonesia (IPGI) terbentuk pada tanggal 25 April 1980 dan diresmikan pada tanggal 24 September 1980 bersamaan dengan diselenggarakannya sebuah pameran besar bertajuk &#8220;Grafis ‘80” di Jakarta.</p>
<p>Badan Pendiri yang terdiri dari 9 orang: Sadjiroen, Sutarno, Suprapto Martosuhardjo, SJH Damais, Bambang Purwanto, Chairman, Wagiono, Didit Chris Purnomo dan J Leonardo N merumuskan program kerja dan membentuk pengurus sementara dengan susunan sebagai berikut:<br />
Ketua: Wagiono<br />
Wakil Ketua: Karnadi<br />
Sekretaris 1: Didit Chris Purnomo<br />
Sekretaris 2: J Leonardo N<br />
Bendahara: Hanny Kardinata<br />
Dibantu beberapa koordinator bidang:<br />
Pameran: FX Harsono, S Prinka<br />
Publikasi dan Buletin: Tjahjono Abdi<br />
Hubungan Masyarakat: Agus Dermawan T<br />
Dokumentasi dan Perpustakaan: Helmi Sophiaan<br />
Pendidikan dan Ceramah: Hanny Kardinata</p>
<p>Perjalanan IPGI selanjutnya bisa diikuti pada &#8220;Sejarah IPGI-Upaya Menumbuhkan Apresiasi&#8221;.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>1990-an</strong></p>
<p>SEKILAS KOMIK INDONESIA<br />
Since 1996 the ‘National Comic Week’ has presented a yearly celebration of formally published (that is, those with ‘permission’ and slick presentations) Indonesian-made comics. In other words, it glorifies bad marketing, lack of distribution, limitations, translations, Western copies, censorship, ideological repetition, and the ‘Golden Age’ (legend and silat comics from the 60s and 70s). In 1999 local independent or underground comics were first permitted to appear in the festivities. Independents are those comics created by admirers of the art or those who simply choose to express themselves through the medium. These mini comics are ‘self-published’, meaning they are photocopied, distributed amongst friends, and occasionally sold in local shops. Illegal prior to May 1998, by the 1999 Comic Week, fifteen ‘studios’ or groups from Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya and Denpasar were actively making and self-publishing comics. With the idealism of the moment, mixed with the thrill of legitimacy and finally seeing their work in the same exhibition space as the great Indonesian komikus (Jan Mintaraga, RA Kosasih and others), Wahyoe Soegijanto, head of the Indonesian Comic Community (MKI) claimed great things for indie comics &#8211; while maintaining New Order discourse: &#8220;We’re moving ahead step by step to advance Indonesian comics as our contribution to the development of Indonesia&#8221;. By the 2000 exhibition, however, these independents were already reduced in number and confined to one corner of the hall.</p>
<p>What is so important about comics? For one, Indonesians love them and have a long, fond history of growing up with them. But if comics mirror the environment in which they appear, the ‘Golden Age’ was a time of heroes and legends, whereas now Indonesia is an occupied nation. Very few komikus have found their own voice under reformasi. The vast majority of comics on display at the 2000 Expo this past February were copies of western comics in terms of art, story, design, location, characterization, and even language.</p>
<p>Rendra had once described freedom of expression as a reflection of the artist’s degree of contact with the people, life, and nature, an ability to express the truth, or soul of society. So why are most Indonesian comics utterly removed from any direct contact with the everyday world? With reformasi, comics have the potential to reflect social and political life way beyond other types of communication. Where are these models of contemporary culture we would expect to see in such a genre? Now let’s go back to that little indie corner of the exhibition and see what comics look like when freed from the stranglehold of slick presentation or censorship.</p>
<p>First, there were the classics. Self-published comics had been a trend on campuses since 1994. By 1996 groups of Yogyakarta-based art students compiled their efforts into Core Comic, Komik Selingkuh, Kiri Komik, Petak Umpet Komik, and Komik Haram out of love for the medium, the need for self-expression, and in a vain attempt to revive a much missed local tradition. For the most part, and precisely like indies anywhere else in the world, they remain economically utterly unsuccessful. Like indie artists elsewhere too, many are self-conscious about presenting their work in public, evidenced by opening statements that justify their efforts as socially useful, &#8220;Jakarta the hot and filthy can be transformed into a comic!!&#8221; (Komec Perjoeangan, 1999, Rudi H.), or avoid criticism by referring to the comic as garbage and without meaning (Rampok, 1999, by Emte).</p>
<p>The indie theme in the pre-Reformasi era was predominantly despair. One of the earliest (1996) in the group comic output was Komik Selingkuh (Deception). This comic-cum-manual is entirely devoted to deception with the ultimate goal of luring someone into sexual engagement. Success or failure both lead to the same ending: a fight with the wife, financial debt, unwanted children, divorce, misery, suicide, and the comfort and joy of imagining and/or doing the whole sex scene again. Regardless of the consequences, sex as the reward for a good deception heavily outweighs the negatives, at least in terms of its presentational build-up within the comic.</p>
<p>Core Comics (1996) self-published a series called Berteman dengan Anjing (Befriending Dogs). Each volume contains compilations that conform to various dog themes, nearly all violent: dogs as mad scientists, dog heaven where dogs curse at and abuse people, space dogs fall in love with earth women, and others too weird to identify. Tanggaku Kirik (My Neighbor is a Puppy) compiles stories based in dog worlds, where humans are the beasts, and dog dreams, aspirations for love, to become human, or to just survive. As a whole, nearly every story has a sad ending where man beats dog or dog aspires to greatness and fails.</p>
<p>Most of the New Order era indies share this pessimism, while, and totally unlike indie comics in Australia or the States, avoiding any sense of a self within the social environment. By 1999, however, indies are beginning to show more autobiographical work, based on ‘the material at hand’ turned into a story or just a simple exposé of life. Not all of it is depressing or pornographic either as seen in the Komec Perjoeangan by Rudi H. His inscription reads &#8220;Indonesia pancen Oke Lho&#8221; (Indonesia is definitely OK, you know), and the comic reveals tidbits of the young man’s life and experiences that are thoroughly normal and ‘definitely OK’.</p>
<p>Nowhere to be seen at the 2000 Comic Expo was the work of the Yogya-based comic and organizational wizard, Bambang Toko. Bambang was the organizer for Core Comic and later moved to the far more interesting Apotik Komik. While extremely active makers of comics as autobiography, full of word plays and local trends, Apotik Komik also has taken comics to the streets through their humorous posters and by decorating walls and billboards. Their collective works have developed a good balance between telling a familiar story and using humor as a way to promote thought and different perspectives. Yet, they, and all the other Yogya komikus chose to boycott the 2000 Comic Expo. Hopefully, by the 2001 Expo, komikus, publishers, and the Indonesian public will make more effort to look forward instead of back and support a more lively, relevant local comic industry.</p>
<p>Source: &#8220;Independence and idealism through Comics&#8221; <em>Inside Indonesia No 62.</em> July-September 2000. Dutch translation appears in <em>Stripschrift.</em> Jaargang 32 &#8211; nummer 10 (327).</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>2005</strong></p>
<p>Pada tanggal 8 September 2005 dalam acara “Gathering and Talk Show-It&#8217;s Graphic Designers United!” di arena FGD Expo 2005, Jakarta Convention Center, diterbitkan Memorandum ADGI kepada Gauri Nasution, Danton Sihombing, Hastjarjo B. Wibowo dan Mendiola B. Wiryawan untuk mempersiapkan Kongres ADGI dalam waktu 6 bulan.</p>
<p>Pada bulan Oktober 2005 para penerima mandat membentuk Tim Revitalisasi ADGI yang terdiri dari 14 orang desainer, yaitu; Andi S. Boediman, Ardian Elkana, Danton Sihombing, Divina Nathalia, Djoko Hartanto, Gauri Nasution, Hastjarjo B. Wibowo, Hermawan Tanzil, Ilma D. Noe&#8217;man, Irvan A. Noe&#8217;man, Lans Brahmantyo, Mendiola B. Wiryawan, Nia Karlina dan Sakti Makki. Tim ini bekerja selama 5 bulan untuk merumuskan platform “ADGI Baru”. Berdasarkan evaluasi terhadap kinerja ADGI pada masa lalu dirumuskan branding platform Adgi baru yang kini hadir dengan deskripsi Indonesia Design Professionals Association .</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>2006</strong></p>
<p>Pada tanggal 22 Februari 2006 sekitar 40 desainer menghadiri &#8220;Designer Gathering&#8221; di LeBoYe atas undangan tim 14 yang mencanangkan Revitalisasi ADGI. Tujuan pertemuan ini adalah untuk menghidupkan kembali asosiasi desainer yang sempat mati suri itu. Pertemuan malam itu menghasilkan logo baru Adgi serta rencana menggelar seminar pada bulan April 2006.</p>
<p>Setiap usulan dalam gathering dijadikan bahan diskusi dalam pertemuan-pertemuan Tim 14 sesudahnya, yang pada akhirnya menentukan fornat Adgi sebagai sebuah organisasi non-profit oriented yang berbentuk yayasan, yang berjuang bagi kepentingan anggotanya dan kemajuan desain nasional.</p>
<p>Pada tanggal 19 April 2006 bertempat di Ballroom Hotel Le Meridien, Jakarta diselenggarakan Kongres Adgi dimana terpilih formasi presidium yang terdiri dari 5 orang yaitu Andi S. Boediman, Danton Sihombing, Hastjarjo B. Wibowo, Hermawan Tanzil dan Lans Brahmantyo untuk mengemban tugas memimpin Adgi selama periode 1 tahun dengan mengusung tema “Unifying Spirits”. Implementasi gagasan desentralisasi telah melahirkan Adgi-Jakarta Chapter yang diketuai oleh Nico A.Pranoto dan Adgi-Surabaya Chapter yang diketuai oleh Yosua Alpha Buana.</p>
<p>Pada tanggal 16-30 Agustus 2006 Adgi menggelar pameran desain komunikasi visual &#8220;Petasan Grafis&#8221; di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta dengan sub-judul &#8220;Pameran Nasionalisme Indonesia dalam Desain Komunikasi Visual&#8221;. Pameran yang dibuka oleh Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu itu diawali dengan pemutaran video perjalanan IPGI sebelum menjadi Adgi, disusul penyerahan penghargaan untuk ke-5 pemenang kompetisi &#8220;Ide Awards&#8221; (Penghargaan Nasional Akademik Desain Grafis). Kompetisi ini diadakan khusus untuk mahasiswa desain komunikasi visual yang mewakili institusi-institusi pendidikan desain di Indonesia yang terbagi atas 3 pilihan tema:<br />
1. Kemasan makanan tradisional Indonesia, misalnya ekspolorasi kemasan dodol durian, tape ketan dsb., mulai dari brand identity dan seterusnya<br />
2. Event, misalnya promosi tari-tarian daerah, resital gamelan dsb., mulai dari logo event dan sebagainya<br />
3. Destination Branding, misalnya mengolah program komunikasi visual suatu tempat yang menarik di Indonesia (pantai, museum, tempat bersejarah dsb.).</p>
<p>Setelah melalui penilaian dewan juri yang terdiri dari Hanny Kardinata (Desainer Grafis Senior), Sita Subijakto (Headline Creative Communication), Ipong Purnomosidi (Kurator Bentara Budaya, Jakarta), Nirwan Dewanto (Budayawan) dan Seno Gumira Ajidarma (Budayawan), keluar sebagai pemenang adalah karya &#8220;Dolanpiade&#8221; dari Digital Studio, Jakarta (Dicky Mardona, Meliana Sari Hermanto, Octavia Subiyanto, Rifki Zulkarnain, Welly Caslin); &#8220;Peranakan Idealis&#8221; dari Institut Kesenian Jakarta (Irvan Mulia Ahmadi, Rahayu Pratiwi, Husin Alkaff, Muhammad Rizki Lazuardy); &#8220;Lurjuk&#8221; dari Universitas Kristen Petra, Surabaya (Aileen Halim, Ang Siau Fang, Selvy Hermawan); &#8220;Batik Illusion&#8221; dari Universitas Bina Nusantara (Adeline Ardine, Fredy Susanto, Nadya Kartika) serta &#8220;Moralitas Pers&#8221; dari Universitas Bina Nusantara, Jakarta (Kezia Winarta Wahyuni Wijayati, Lia Anggraeni, Filina Vicentia, Tafrian).</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>2007</strong></p>
<p>Pada hari Kamis, tanggal 19 April 2007 jam 09.00 s/d 13.00 WIB dilaksanakan Kongres Nasional Adgi kedua di gedung Galeri Nasional, Jakarta. Kongres dihadiri 45 peserta undangan yang terdiri dari praktisi (desainer) dan pendidik.</p>
<p>Kongres memutuskan dan menetapkan 4 agenda penting yaitu:<br />
1. Penerimaan laporan pertanggungjawaban pengurus sebelumnya (presidium).<br />
2. Penetapan draft AD/ART dan Kode Etik menjadi rancangan AD/ART dan Kode Etik untuk kemudian dihibahkan kepada pengurus mendatang untuk disempurnakan.<br />
3. Pelantikan Dewan Penasehat yang terdiri dari: Gauri Nasution, Ign. Hermawan Tanzil, Irvan A. Noe&#8217;man, Iwan Ramelan, dan Wagiono Sunarto.<br />
4. Pemilihan, dan pelantikan Ketua Umum Adgi untuk periode pengurusan 2007–2010 atau sesuai dengan ketentuan yang berlaku sesuai dengan yang tertera pada AD/ART yang telah disempurnakan. Dari 5 nama Calon Ketua Umum, terpilih satu dengan suara terbanyak yaitu sebanyak 27 suara adalah Danton Sihombing.</p>
<p>Selanjutnya, Danton Sihombing selaku Ketua Umum Adgi 2007-2010 telah menunjuk Mario Tetelepta sebagai Sekjen Adgi dan Irvan N. Suryanto sebagai Direktur Pengembangan dan Pemasaran Produk.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>17-25 April 2007</strong></p>
<p>&#8220;1001 Inspiration Design Festival&#8221;, sebuah acara berskala besar pertama di bidang komunikasi visual Indonesia (desain grafis, multimedia, animasi) yang diselenggarakan oleh majalah desain grafis Concept dan Digital Studio College. Acara yang digelar pada tanggal 17-25 April ini secara umum dipecah dalam dua bagian yaitu &#8220;Inspiration Light Up&#8221; (seminar kreatif menghadirkan pembicara luar dan dalam negeri, yang berlangsung 17-19 April di Crown Plaza Jakarta) dan Exhibition (memamerkan karya peserta kompetisi desain &#8220;1001 Cover Concept&#8221;, karya lulusan Digital Studio College, karya para desainer Inggris, serta acara hiburan lainnya), yang berlangsung 20-25 April di Senayan City Jakarta).</p>
<p>Sebagai bagian dari &#8220;1001 Inspiration Design Festival&#8221; majalah desain grafis Concept mengadakan kompetisi desain &#8220;1001 Cover Concept&#8221; yang bermaksud memecahkan rekor dunia &#8216;majalah dengan variasi cover terbanyak dalam satu edisi’. Kompetisi dengan hadiah terbesar sepanjang sejarah ini (hadiah utama sebuah mobil Chevrolet-Kalos) diadakan dengan tujuan untuk memberi kesempatan kepada para desainer muda Indonesia untuk ikut merasakan menjadi pemecah rekor bersama-sama.</p>
<p>Total karya yang masuk berjumlah lebih dari 1300 karya, yang setelah didata dan dipilah, ditentukan 1001 pemecah rekornya. Pada tahap berikutnya tim intern Concept menyeleksi 208 karya yang dinilai unggul. Ke 208 karya tersebut disaring lagi hingga menjadi 101 semifinalis untuk kemudian dinilai oleh 5 juri yang terdiri dari Hanny Kardinata (Desainer Grafis Senior), Hermawan Tanzil (Creative Director LeBoYe yang mewakili Adgi-Indonesia Design Professionals Association), Mendiola B Wiryawan (Creative Director Mendiola Design yang mewakili FDGI-Forum Desain Grafis Indonesia), Vera Tarjono (Art Director Majalah Concept) dan Stefanus Aristo Kristandyo (Marketing Manager General Motor yang mewakili GM sebagai sponsor utama). </p>
<p>Penjurian yang berlangsung di Ruang Pamer Seni Rupa-Institut Kesenian Jakarta itu memilih 11 finalis, yang kemudian dipersempit hingga menjadi tiga pemenang, masing-masing sebagai juara pertama Daud Budi Surya Nugraha, juara kedua Marishka Cempaka Dewi dan juara ketiga Agra Satria.</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/06/n646044155_582234_9702.jpg"><img src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/06/n646044155_582234_9702.jpg?w=600" alt=""   class="alignnone size-full wp-image-2842" /></a></p>
<p>The winner of 1001 Concept Cover magazine, Daud Budi Surya.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>14 November 2008</strong></p>
<p>Majalah kreatif berbasis desain grafis <a href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/11/15/majalah-versus-edisi-1-identitas-keindonesiaan/">&#8220;Versus&#8221; edisi #1</a> terbit dan mengadakan soft-launching pada acara Bedah Buku &#8220;Layout Dasar &amp; Penerapannya&#8221; di Universitas Tarumanagara, Jakarta. Majalah &#8220;Versus&#8221; dikelola oleh <a href="http://hannykardinata.wordpress.com/">Hanny Kardinata</a> (Chairman), Caroline F Soenarko (Business Director), <a href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2007/09/07/ismiaji-cahyono/">Ismiaji Cahyono</a> (Chief Editor), Ronald Holoang (Business Development Manager), Berti Alia Bahaduri (Managing Editor), Celvie Toramaya (Creative Director), Mario Utama (Graphic Designer), Bima Nurin Aulan (Graphic Designer), Intan Febrianni (Workflow Manager), Diana Soetrisno (Account Executive) dan Novi Rachmawati (Finance and General Affair).</p>
<p>To be continued</p>
<p>•••</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hgdi.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hgdi.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hgdi.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hgdi.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hgdi.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hgdi.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hgdi.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hgdi.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hgdi.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hgdi.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hgdi.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hgdi.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hgdi.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hgdi.wordpress.com/152/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hgdi.wordpress.com&amp;blog=7589571&amp;post=152&amp;subd=hgdi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/timeline-for-indonesian-graphic-design-history/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec48f37e3142c8d4ac349568b3ffe183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2008/06/n646044155_582234_9702.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>1940-1949: Poster &#8220;Boeng, Ayo Boeng&#8221;</title>
		<link>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/1940-1949-poster-boeng-ayo-boeng/</link>
		<comments>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/1940-1949-poster-boeng-ayo-boeng/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 03:10:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[1940-1949]]></category>
		<category><![CDATA[Affandi]]></category>
		<category><![CDATA[Bung Karno]]></category>
		<category><![CDATA[Chairil Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Dullah]]></category>
		<category><![CDATA[S. Soedjojono]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hgdi.wordpress.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[Pada tahun 1943, Affandi mengadakan pameran tunggal pertamanya di Gedung Poetera Djakarta yang saat itu sedang berlangsung pendudukan tentara Jepang di Indonesia. Empat Serangkai&#8211;yang terdiri dari Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Mas Mansyur&#8211;memimpin Seksi Kebudayaan Poetera (Poesat Tenaga Rakyat) untuk ikut ambil bagian. Dalam Seksi Kebudayaan Poetera ini Affandi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hgdi.wordpress.com&amp;blog=7589571&amp;post=145&amp;subd=hgdi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://hgdi.files.wordpress.com/2009/05/poster-boeng.jpg?w=600" alt="poster boeng" title="poster boeng"   class="alignnone size-full wp-image-146" /></p>
<p>Pada tahun 1943, Affandi mengadakan pameran tunggal pertamanya di Gedung Poetera Djakarta yang saat itu sedang berlangsung pendudukan tentara Jepang di Indonesia. Empat Serangkai&#8211;yang terdiri dari Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Mas Mansyur&#8211;memimpin Seksi Kebudayaan Poetera (Poesat Tenaga Rakyat) untuk ikut ambil bagian. Dalam Seksi Kebudayaan Poetera ini Affandi bertindak sebagai tenaga pelaksana dan S. Soedjojono sebagai penanggung jawab, yang langsung mengadakan hubungan dengan Bung Karno.</p>
<p><strong>1945</strong></p>
<p>Ketika republik ini diproklamasikan 1945, banyak pelukis ambil bagian. Gerbong-gerbong kereta dan tembok-tembok ditulisi antara lain &#8220;Merdeka atau mati!&#8221;. Kata-kata itu diambil dari penutup pidato Bung Karno, Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945. Saat itulah, Affandi mendapat tugas membuat poster. Poster itu idenya dari Bung Karno, gambar orang yang dirantai tapi rantai itu sudah putus. Yang dijadikan model adalah pelukis Dullah. Lalu kata-kata apa yang harus ditulis di poster itu? Kebetulan muncul penyair Chairil Anwar. Soedjojono menanyakan kepada Chairil, maka dengan enteng Chairil ngomong: &#8220;Bung, ayo Bung!&#8221; Dan selesailah poster bersejarah itu. Sekelompok pelukis siang-malam memperbanyaknya dan dikirim ke daerah-daerah. Dari manakah Chairil memungut kata-kata itu? Ternyata kata-kata itu biasa diucapkan pelacur-pelacur di Jakarta yang menawarkan dagangannya pada zaman itu.</p>
<p>Sumber: <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Affandi">Wikipedia</a></p>
<p>•••</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hgdi.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hgdi.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hgdi.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hgdi.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hgdi.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hgdi.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hgdi.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hgdi.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hgdi.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hgdi.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hgdi.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hgdi.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hgdi.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hgdi.wordpress.com/145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hgdi.wordpress.com&amp;blog=7589571&amp;post=145&amp;subd=hgdi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hgdi.wordpress.com/2009/05/19/1940-1949-poster-boeng-ayo-boeng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec48f37e3142c8d4ac349568b3ffe183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hgdi.files.wordpress.com/2009/05/poster-boeng.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">poster boeng</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
