1800s

The deployment of advertising to promote was also used by merchants to bolster up their sales. In 1825, advertisements of traditional medicines were found in the pages of Tjabaja Siang, a local newspaper in Minahasa. Tjabaja Siang was the first publisher owned by the native people. Its advertisements were also published in some media in The Netherlands.

Source: In Search of a Style, p. 31.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

First Brochures

The growth of advertising during the Dutch Indies period had a lot to do with the growth of the economy in the region. In 1870, many Dutch investors came to invest their money in plantation and mine industries. The situation forced them to form a research foundation in order to extend and accumulate their capital. Suikersyndicaat, a sugar association, was one of them. They were the first organization that made promotional brochures to attract prospective investors. Another organization was the Javaasche Bank which also used printed materials as the media of promotion. The brochures and booklets were mostly printed by G.C.T. van Dorp & Co, which was located in Jakarta, Semarang and Surabaya.

Source: In Search of a Style, p. 32.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

In 1890, the Dutch founded a printing company Percetakan Negara in Jakarta. It was the biggest printing company in Asia. Meanwhile, during the same period of time, there had been 6500 printing companies existed in Indonesia, 2700 of them were in Jakarta.

Source: In Search of a Style, p. 30.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

IKLAN BUKU PERTAMA

Sejak Hindia Belanda diserahkan kembali oleh Inggris pada tahun 1812, percetakan surat kabar dikendalikan sepenuhnya oleh negara, meskipun perusahaan percetakannya yang berlokasi di negeri Belanda masih dimiliki dan dikelola oleh swasta. Sedangkan perusahaan percetakan buku yang juga dikelola oleh swasta dimulai tahun 1839, dipelopori oleh Cijveer & Company. Pada tahun 1842 perusahaan ini berubah nama menjadi Cijveer & Knollaert, karena sebagian besar sahamnya dibeli oleh perusahaan Knollaert. Perusahaan ini pun masih beralih tangan kepada Ukeno & Company, sebelum akhirnya dijual lagi kepada Bruyning Wijt. Perusahaan percetakan buku ini berpindah-pindah tangan, disebabkan kegagalan terus menerus dalam pemasarannya. Utamanya, karena mereka tidak dapat memanfaatkan periklanan akibat adanya larangan keras dari pemerintah kolonial. Baru pada masa Bruyning Wijt, perusahaan percetakan buku ini mengalami kemajuan, karena produk buku-buku mereka mulai dipublikasikan pula melalui iklan-iklan di surat kabar.

PERCETAKAN SURATKABAR OLEH SWASTA

Tahun 1829 pemerintah Hindia Belanda mendirikan suratkabar Nederland-Indisch Handelsblad. Hampir seluruh iklan di suratkabar ini juga ditulis tangan.(7) Suratkabar ini merupakan organ dari perusahaan swasta komersial yang dipimpin oleh Dus Bus de Gisignes, mantan Gubernur Jenderal (1813-1815). Dua suratkabar pemerintah terdahulu, Batavia Nouvelles dan Bataviaasch Advertentieblad, tidak bertahan lama, karena tahun 1833 pemerintah kolonial Hindia Belanda mengambil kebijaksanaan yang mendukung penerbitan dan pencetakan suratkabar oleh swasta.

(7) Dr.C.W. Wormser, Drie en derting jaren op Jav, Ten Have, Adam 1944.

Sejarah mencatat pula beberapa suratkabar di luar Batavia (Jakarta). Misalnya, suratkabar mingguan Soerabaja Courant di Surabaya yang mulai terbit tahun 1833 dan baru menjadi harian empat tahun kemudian. Lalu tahun 1845 Oliphant en Compagnie, Semarang, mulai menerbitkan suratkabar mingguan Semarangsch Nieuws en Advertentiebald . Setelah kemenangan kaum liberal-demokrat di Belanda, berganti nama menjadi De Locomotief dan mulai terbit sebagai harian. Nama “lokomotif” yang digunakan suratkabar ini sekaligus dimaksudkan untuk memperingati pertamakali masuknya jalan kereta-api di Hindia Belanda membawa juga kemenangan bagi kaum pemodal. Maka semua suratkabar swasta di masa itu mulai bebas memuat iklan.(8)

(8) Untuk deskripsi ini lihat, J.S. Furnivall, Netherland-India: A Study of plural Economy. Cambrigde University Press, 1944, hlm.610; “Drukpers”, Encyclopedia Nederland-India, hlm. 642-643.

Bataviaasch Advertentieblad yang tahun 1851 terbit kembali dengan nama Bataviaasch Iklanblad, setahun kemudian mengubah lagi namanya menjadi Java Bode. Suratkabar ini dimotori oleh Conrad Busken Huet sebagai pimpinan redaksi dan dicetak oleh W. Buining yang berkebangsaan Inggris yang datang ke Jakarta tahun 1848 sebagai pengusaha percetakan.

Belanda dengan kebijaksanaan pimpinan sebelumnya, Java Bode dilarang menyiarkan baik iklan-iklan pelelangan maupun iklan-iklan hasil pabrik. Mereka kuatir, timbulnya persaingan atau perang dagang sebagaimana yang pernah terjadi di Inggris dan Amerika. Meskipun tanpa iklan, Java Bode dapat bertahan selama 90 tahun, yaitu hingga masa invasi Jepang ke Indonesia.

Tahun 1858 Nederlandsch-Indisch Handelsblad pun berusaha bangkit kembali, tetapi akhirnya juga ditutup lagi oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1867.

IKLAN-IKLAN PERTAMA MEDIA

Pemanfaatan iklan untuk menunjang pemasaran, juga sudah lama dikenal para pengelola suratkabar. Contoh khas surat kabar pertama ini adalah Tjabaja Siang, terbit di Minahasa tahun 1825, telah mengiklankan produk obat-obat tradisional. Tjabaja Siang adalah suratkabar pribumi yang pertama kali memanfaatkan iklan sebagai penunjang pemasaran, dan iklannya disebarluaskan hingga ke Eropa. Kemudian disusul oleh Soerabaja Advertentie Blad, Surabaya, terbit pertama kali tahun 1836. Ia mengiklankan produknya dengan teks iklan sebagai berikut:

soerabaja-advertentie-blad

Nomor satoe soedah tidak bisa dapatkan lagi, oentoek itoe tjepat segera pesan langsoeng ke kantoor Redakteur.(9).

(9) Dikutip dari, Sekilas Sedjarah Perdjuangan Perss Suratkabar Sebangsa, diterbitkan oleh Serikat Perusahaan Suratkabar (SPS), Djakarta 1958, hlm.214.

Surat kabar Bientang Timoor, Surabaya, bahkan telah menggunakan iklan untuk meluncurkan produknya. Dalam penerbitan nomor pertamanya ia telah memuat iklan:

Siapa siapa njang biasa trima soerat kabar bernama Bientang Timoor, soeka diteroeskan ini taon 1865, dikasi taoe njang oewangnja itoe soerat kabar, barganja f. 15, – bole lekas
dikirimkan sama njang kloeawarken itoe soratkabar. (10)

(10) Bientang Timoor, 4 Djanuari 1865.

Atau suratkabar Surabaya lain tahun 1872 yang berbahasa Melayu, Bromartani, yang dalam nomor perdananya, juga telah memuat iklan:

Bermoelanja kita mengeloearkan kepada orang-orang njang soeka batja ini Soerat kabar, njang bergoena soeda terseboet didalam Soerat Kabar Oospost, jaini Soerat Kabar bahasa Melajoe sanget didjadiken pertoelangannja orang berdagang dinegrie Djawa soeblah timor.
Mangka segala orang berdagang njang soeka taroh satoe kabar dari dagang atawa belaijar, berseangkat, datang dari pendjoelan barang, harga oetawa dari lain2 kabar, ija boleh kirim di kantor tjitakan ini soerat di kota Soerabaja.(11)

(11) Bromartani Soerat Kabar Bahasa Melajoe, 3 Djanuari 1872.

Source: Sejarah Periklanan Indonesia, Bab I: Awal Periklanan Indonesia. Penerbit: Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI)


About this entry