1900s: Tjahjono Abdi (1952-2005)

Tjahjono Abdi (1952-2005)

† 3 Februari 2005

Pertemuan pertama
Aku mulai mengenal Tjahjono pada tahun 1972 ketika aku pertama kalinya menjejakkan kakiku di tempat in-de-kost ku di jalan Purwodiningratan 188, Jogjakarta dalam rangka melanjutkan studi di STSRI “ASRI”. Tjahjono sudah terlebih dulu kost di tempat itu. Ketika itu dia bersekolah di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) di jurusan Seni Lukis dan ‘sudah jadi’ seniman – penampilan mau pun ketrampilannya – sementara aku sendiri masih sebagai remaja yang baru lulus SMA.

Kesan yang segera terpancar dari dirinya adalah sikap individualistiknya. Dia tinggal di kamar yang disediakan untuk satu orang, sementara aku memilih kamar untuk berdua. Dia lebih senang pergi sendirian sementara kami (sekitar sepuluh orang di tempat kost itu) lebih suka pergi bersama-sama. Tjahjono seorang yang fanatik pada Beethoven. Dia memiliki kesembilan simfoninya (di samping karyanya yang lain) dan juga sebuah patung Beethoven di kamarnya. Kalau dia melukis, kamarnya akan dikuncinya rapat-rapat dan yang terdengar dari luar hanyalah suara musik Beethoven itu. Terkadang, dari lubang kunci pintunya kami melihat dia mengayun-ayunkan tangannya mengiringi gelegar irama musik. Lukisannya sendiri bercorak abstrak ekspresionistik dengan sapuan kuas dan palet besar-besar dengan dominasi warna merah, biru, putih dan hitam. Dominasi ke empat warna ini juga tampil pada karya-karya posternya waktu itu.

Kami berpisah ketika dia lulus sekolah (mungkin sekitar 1974) dan bermaksud melanjutkan studinya ke LPKJ (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta, sekarang IKJ). Sejak itu hubungan kami terjalin lewat korespondensi. Dalam salah satu suratnya Tjahjono mengungkapkan kekecewaannya pada sistem pendidikan yang diterimanya di LPKJ. Menurutnya, apa yang diajarkan sudah pernah diterimanya semasa di SSRI. Dia segera meninggalkan LPKJ dan memutuskan untuk bekerja saja di biro reklame. Beberapa karyanya semasa bekerja di biro-biro reklame di Jakarta itu dia lampirkan dalam surat-suratnya dan aku segera saja kagum dengan kemampuan adaptasinya yang luar biasa, dari seorang seniman lukis abstrak ke seorang desainer iklan.

Pertemuan kedua
Pertemuanku berikutnya dengan Tjahjono adalah di Jakarta tahun 1976. Ketika itu dia telah bekerja sebagai visualizer di Matari. Aku baru saja menyelesaikan studiku di Jogja dan datang melamar bekerja di kantornya (waktu itu di jalan Tanah Abang II) karena menurutnya Matari membutuhkan seorang visualizer lagi. Selama bekerja di Matari (1976-1977) lagi-lagi aku tinggal satu kost dengannya, kali ini bahkan sekamar. Pada periode ini Tjahjono yang aku lihat adalah Tjahjono yang sepenuhnya desainer iklan, yang sangat terampil mengolah dan mengeksekusi ide-ide untuk kampanye perusahaan-perusahaan besar. Aku juga menyaksikan bagaimana sepulang dari kantor dia masih sempat mengerjakan sampul majalah Tempo yang waktu pengerjaannya selalu sangat terbatas – sering-sering hanya sehari demi aktualitas topik utamanya – di mana pada pagi harinya Tjahjono menyerahkannya ke kantor Tempo di Senen Raya dalam perjalanan dengan sepeda motor bebeknya ke Matari. Pada masa ini S Prinka (yang juga pernah bekerja di Matari) belum bekerja di Tempo.

Matari yang kemudian berkantor di Slipi, pada saat itu mulai merintis pemisahan antara desainer iklan (khusus above-the-line) dan desainer grafis (khusus below-the-line). Tjahjono tetap menangani desain iklan sementara aku lebih ke proyek-proyek desain grafis, mengerjakan logo, brosur, poster, kalender dsb.

Kebersamaanku dengan Tjahjono di Matari berlangsung selama setahun lebih. Kembali kita berpisah ketika aku keluar dari Matari dan melanjutkan karirku sepenuhnya di bidang desain grafis secara free lance. Pada tahun 1980 aku mengadakan pameran desain grafis bersama Gauri Nasution dan Didit Chris yang berlangsung di Pusat Kebudayaan Belanda “Erasmus Huis”. Pada tahun yang sama kami, para perancang grafis Indonesia, mulai merintis berdirinya Ikatan Perancang Grafis Indonesia (IPGI) dan pada tahun itulah aku dan Tjahjono dipertemukan kembali. Tjahjono yang duduk di seksi publikasi menangani publikasi pameran IPGI (dan ini kemudian berlangsung hingga tiga kali pameran berturut-turut).

Pertemuan ketiga
Seusai bersama-sama mengurus penyelenggaraan pameran IPGI yang pertama di Mitra Budaya, Tjahjono, aku dan beberapa kawan mendirikan studio desain grafis Citra Indonesia. Citra Indonesia awalnya berkantor di sebuah ruang kecil di Jalan Sunda (rumah Sudarmaji Damais). Tjahjono ketika itu sudah keluar dari Matari.

‘Keindonesiaan’ Tjahjono barangkali mulai terasah di sini dengan pertemuannya yang intens dan berlangsung setiap sore dengan Sudarmaji Damais yang pakar kebudayaan Indonesia. Inilah kebersamaanku yang paling lama dengan Tjahjono, mungkin berlangsung selama lebih kurang 10 tahun (on-and-off), mulai dari jalan Sunda kemudian jalan Sawo hingga ke Bintaro dan jalan Cibeber, kemudian dari jalan Bangka hingga ke Kemang, dan sejak Tjahjono keluar dan kemudian masuk lagi ke Matari dan kemudian keluar lagi. Kalau tidak salah hampir bersamaan dengan keluarnya yang terakhir kali dari Matari itu Tjahjono kemudian juga keluar dari Citra Indonesia dan mendirikan Mindglow. Setelah ini kami hampir tidak pernah bertemu lagi kecuali secara kebetulan dalam beberapa kejadian, hingga meninggalnya pada tanggal 3 Februari 2005.

Copyright © Hanny Kardinata 2005

Catatan: Tulisan ini dibuat atas permintaan Priyanto S, dan kemudian dibacakan dalam pertemuan FDGI (Forum Desainer Grafis Indonesia) di Museum Nasional Indonesia, Maret 2005, saat menjamu kedatangan Henricus Kusbiantoro, Fabio Gherardi dan Ian Perkins dari New York.

Poster Lingkungan Hidup I

Poster Lingkungan Hidup II


About this entry