1970-1979: Priyanto Sunarto: Ngobrolin Desain Grafis Tahun 1970an

Priyanto Sunarto: Ngobrolin Desain Grafis Tahun 1970an

Bahan acara pertemuan FDGI (Forum Desain Grafis Indonesia) di Museum Nasional Indonesia, Maret 2005, saat menjamu kedatangan Henricus Kusbiantoro, Fabio Gherardi dan Ian Perkins dari New York.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Kalo disuruh crita masa lalu buanyak banget yg menarik yg temen2 muda tak bisa bayangin. Misal, compact cassettes aja baru kutahu dan alami tahun 1969, ada kaset pemutar segede kotak dodol garut pake batre, enteng bisa dimasukin ransel, meskipun masih belum stereo dan tak ada earphone, cuma speaker kecil cempreng, itu sudah revolusi! Biasanya waktu itu Mas Iwan Ramelan di kampus bikin jazz nite bawa tape reel yg mesin pemutarnya aja segede pemanas microwave… tak ada headphone dibawa jalan-jalan, kegedean. Sekarang kita pake MP3 & Ipod kuping disumbat mentos…


Cerita ttg Desain Grafis taun 50-70an sebenernya udah beberapa kali aku critain, waktu KMDGI di Diknas Senayan itu bareng Mas Tanto. Di Erasmus tahun lalu bareng Dio sama Elwin juga tugas dongengku desain tahun 50an. Perkenalanku dgn dunia grafis mulai awal 1960an, bapakku dokter yg kadang praktek di percetakan G. Kolff (nama nasionalnya Gita Karya), Pecenongan. Disitu aku kenal “desainer” bungkus rokok dan prangko, Ahmad Jupri… Dulu istilahnya bukan desainer tapi “artist” atau graphic-artist.


Urusan teknik pelaksanaan Grafis

Tahun segitu jangankan komputer, huruf gosok letraset aja baru taun 70an nongol. Tugas akhirku buku, halaman contohnya dicetak pake huruf timah di Pikiran Rakyat. Mesin hurufnya segede gajah, ada kuali isi timah mendidih. Kalo strip timahnya ngetiknya salah tinggal cemplungin ke kuali mencair lagi lalu ketik lagi yg bener. Gambar musti dibikin pake klise timah. Semua disusun & dikunci di bantal press. Bikin kartu nama pake mesin handpress, huruf timahnya disusun pake tangan satu-satu (ampun!). Waktu mahasiswa aku diserahin ngurus bengkel handpress gitu dan cetak-saring (silkscreen). Ordernya kartu-nama, undangan, formulir kantor, kop surat, amplop dan poster. Paling asik waktu nyetak, sambil tangan gede sebelah neken tungkai penekan bunyinya krinting, krinting… dan bau cat itu sungguh nostalgia… Dulu TIM juga bikin bengkel cetak saring utk poster pertunjukan, karyanya aneh-aneh. Siapa yg sempet koleksi ya?


Baru 1973 kalo gak salah koran Kompas dicetak pake offset. Sejak itu desainer rada lega gak urusan sama timah panas lagi. Pesen huruf di perusahaan huruf pake mesin compugraphic, keluar huruf di kertas bromide, dan utk gambar/images pake ortho-film. Mendesain jadi lebih praktis, susun di atas kertas layout bebas. Yang repot kalo huruf bromide-nya salah ketik. Kalo minta bikin lagi waktunya sehari. Kalo mau cepet ya kanibal, huruf demi huruf (10 point) dipotong disusun lagi pake cow-gum (lem karet yg bisa tempel copot). Spraymount belakangan banget baru muncul. Makanya desainer jaman dulu kemana-mana bawa cutter buat koreksi teks dan mounting halaman. Pernah ada razia senjata tajam kita tak berani naroh cutter di kantong, takut dikira preman. Sekarang kan perlu cutter tinggal click di ikon menu komputer tak perlu dikantongin, serba virtual…

Seingatku tahun 1988 Majalah Tempo mulai komputerisasi. Itu pertama kali aku menikmati yg namanya flatbed scanner, masih hitam putih, terkagum-kagum. Apalagi tau photoshop bisa retouchee foto. Foto selebritis ditelanjangin pake photoshop. Pertama kali juga aku liat gambarku yg dibuat di monitor di-print langsung ke negatif ortho. Dulunya gambarnya harus masuk kamar gelap dipotret. Alat motretnya segede kamar tidur. Waktu itu mounting tetep di atas astralon, film bening segede zinc-plate cetak utk susun film hasil huruf typesetting dan FA images (ortho film), semua negatif /diapos. Lembar itu dibawa ke percetakan utk dijadiin plate dan naik cetak.


Baru taun 90 kalo gak salah komputer Tempo bisa integrated, redaksi text, foto, desain dan pracetak. Yg dikirim ke percetakan optical disk. Itu komputer mainframe raksasa kabel networknya kayak gurita ke seantero gedung. Sejak itu juga mulai kerja online internet, email. Cuma emailnya “gopher”, bisa text doang. Tempo mulai masuk online bener ya justru waktu dibredel, bikin majalah di internet. S.Prinka salahsatu penggagas majalah online, alasannya supaya tak dibredel. Mestinya Prinka yg crita pasti asik. Baru 1996 aku kirim gambar pake email, dan bisa animasi (GIF). Sejak itu jejaring net makin canggih, komputer makin kecil, desktop, laptop, palmtop, mungkin lama-lama finger-nail-top.

Teknologi exhibition dulu ya huruf gosok, cat semprot (airbrush dgn cat ducco/mobil), cetak foto manual ukuran lebar maksimal 150cm. Kalo mau lebih gede cetak di Jepang. Sistem pameran tempel sana tempel sini di atas triplex… Sekarang pelaksanaan bisa di atas bahan aneka ragam dan ringan, cuma nempel selembar kertas print digital, desain bisa semaunya, teknologi sungguh ajaib! Orang seumurku menyesal kenapa bukan th 70an ada teknologi kayak gini edannya…


Kerja Desain Grafis

Aku cuma bisa crita dikit apa yg aku tau, kalo ada temen lain yg tau bisa nambahin & koreksi. Tahun 1977 Gion, Prinka, Djodjo, aku dan beberapa temen bikin GGI (Grapik Grapos Indonesia). Aku tadinya 1973 di Decenta (Design Centre Association) usahanya elemen estetik, interior, produk, exhibition. Grafis desainnya dikit banget. Di GGI niatnya mau bikin usaha yg cuma desain grafis, mendesain saja. Bayangannya kayak arsitek, tanggung jawab desain saja, lalu anwijzing dan supervisi. Gagasan itu diketawain orang banyak, gimana caranya dapet duit kalo cuma desain? Mana bisa hidup dari desain-fee? Seringnya kerjaan kita limpahan dari percetakan yg biasanya kejar order ke kantor-kantor. Kantor grafis lain seperti GGI gitu mulai tumbuh dalam kondisi pas-pasan gitu lah.

Dikit banget klien yg tau kalo desain itu penting dan harus dikembangkan sama desainer, nganggap desainer sbg teman menggagas, bukan suruhan (sekarang juga masih banyak klien otoriter ya :-)… Biasanya yg butuh kita perusahaan yg pingin penampilan beda (bosen sama desain generik dari percetakan), atau perusahaan obat resep branded yg cuma diiklankan below the line ke dokter-dokter. Dokter kan borjuis baru yg suka menikmati visual yg “indah & gengsi”. Makanya perlu desain yg unik dan cantik. Kerjaan usaha desain grafis waktu itu sekitar desain buku, selipat, katalog, kalender, exhibition. Annual report dan company profile baru marak 80an, waktu BI bikin aturan, lomba annual report utk perusahaan besar yg dinilai bukan cuma financial balance saja tapi juga desain grafis laporannya.

Jaman itu memang desainer, atau sebutannya artist, umumnya karyawan gajihan percetakan, penerbit atau advertising yg awal 70an mulai marak. Sebetulnya sistem kerja ini tradisi mesin timah yg semua tenaga di satu atap. Jaman offset kan desain bisa dimana aja tak perlu deket mesin repro dan cetak, harusnya desainer bisa independen. Tapi toh tradisi desainer sebagai tukangnya percetakan masih kenceng. Yg tahun lalu dialami temenku, bikin izin usaha grafis desain mesti ada rekomendasi dari asosiasi grafika.


Situasi di bawah bayangan itu yg bikin temen-temen 1980 kumpul di IPGI (Ikatan Perancang Grafis Indonesia). Niatnya mempromosikan profesi desain grafis mandiri. Yg jadi pentolannya almarhum Pak Karnadi yg punya kantor desain grafis utk packaging. Yg bisa kuingat, dulu Hanny & Tjah dan Kay punya graphic house “Citra Indonesia” di Kemang. Gauri sama Darwis bikin Grha Cipta Artha di jl. Raden Saleh. Fortune Adv juga bikin Adwitya Alembana. Kang Djodjo dari GGI pindah ke AA sekantor sama Mas Iwan Ramelan. 1980 Gion jadi ketua pertama IPGI. Pak Karnadi jadi ketua berikutnya waktu Gion sekolah ke Amrik. Sepulangnya tugas ketua dibalikin lagi ke Gion. Tokoh lain yg kuingat antara lain Pak Sadjiroen (desainer uang), Hanny, Gauri, Tjah, Prinka, Gion, Leonardo, Didit Chris. Catatan lengkapnya mestinya Hanny punya. Orang yg bantu IPGI dan concern pada desain grafis waktu itu antara lain Adjie Damais dan Joop Ave. Waktu itu kegiatan IPGI yg paling menonjol pameran keliling nebeng departemen penerangan, kadang juga departemen perdagangan, dan workshop & temu wicara dgn mahasiswa.

Gauri Nasution, Wagiono Sunarto, Priyanto Sunarto dan Karnadi Mardio pada rapat persiapan pameran IPGI.

Rapat persiapan pameran IPGI. Ki-ka: Gauri Nasution, Wagiono Sunarto, Priyanto Sunarto dan Karnadi Mardio.

Entah gayung bersambut mungkin, atau suasana lagi bagus, profesi makin dikenal, demand masyarakat terhadap desain grafis juga pas naik, teknologi pendukung grafis makin canggih, sekolah desain ikut berkembang. Taun 90an boleh dibilang maraknya kegiatan desain grafis, studio grafis makin banyak, proyek banyak, gak sampe rebutan hidup mati, semua dapet jatah. Komputer bikin persaingan makin ketat, tapi mutu desain juga meningkat. Di koran sudah umum iklan cari tenaga grafis desain dengan embel-embel bisa komputer ^__^



Suasana desain grafis cerah sampai datang krismon 1997, kurs dari 2.500/dollar melonjak jadi 18.000/dollar… Banyak studio mati karena kliennya bangkrut. Untuk survive advertising juga terpaksa ngerjain below the line yg biasanya jatah graphic house. Makin terpuruk usaha grafis. Ada ungkapan temenku fotografer “sekarang buat hidup kita mesti minum darah sendiri sampai mati kering”. Desainer yg bisa bertahan cuman yg berlindung di bawah advertising/penerbit dan studio grafis kecil. Saat itu banyak studio kecil yg cuma dua tiga orang staff dan mengandalkan komputer. Studio model itu gitu malah slamet, overheadnya kecil.

Tahun 2000an studio grafis baru mulai bangkit lagi. Orientasi ke grafis desain konvensional (cetak) juga mulai tergeser multi media interaktif, kerjaan bersih dari cat. Tapi grafis cetak tak bakal mati selama orang masih butuh sesuatu yg bukan cuma visual tapi juga fisikal (diam & reflektif) seperti buku, koran, kalender dinding? Siapa tahan baca Harry Potter di palmtop? Kalender poster Inul, oooh! Tapi makin sempitnya kerja grafis juga karena lulusan sekolah grafis makin bejibun, apalagi banyak selebritis mroyek grafis, grafis gampang sih katanya. Lalu kekacauan billing, berapa fee yg pantes? Tambah-tambah sekarang orang asing makin banyak cari proyek di Indonesia. Ya dulu juga ada, cuma sekarang makin leluasa.

Inilah yg mestinya bisa dilakukan organisasi profesi. Kalo memang kita sayang sama Tjahjono & Prinka, cobalah pikirin apa yg mereka pikirin dulu utk menghidupkan dan menaikkan citra desain(er) grafis Indonesia, bukan individual tapi organisatoris… Umur kami sudah nyaris nempuluh, sulit bikin yg revolusioner, masanya sudah lewat. Mungkin inilah saatnya organisasi pofesi diurus yg muda, yg tau pahit getirnya masalah nyata di lapangan, yg masih punya extra tenaga buat idealisme, dan resah pada masa depan bersama. Kayaknya sih gerakannya sudah terasa, antara lain misalnya dengan adanya majalah Concept dan FDGI, dan jangan lupa KMDGI…


Waktu IPGI didirikan kami semua masih umur 30an (kayak Icus & Ian & Fabio sekarang). Tahun 2005 ini siapa temen2 seumur itu yg concern pada nasib profesi ini? Bisakah dibangun jaringan komunikasi antar desainer meliput banyak kota dan latar belakang (ini jaman internet & mailist…). Aku dan para manula sih tak minta-minta, umur tinggal itungan taun, satu-satu sudah mulai masuk kotak (kayak wayang kulit), tapi profesi ini kan bakal terus ada. Niat memperjuangkan nasib profesi semoga juga tetap ada, atau bakal “is dead” juga?

Priyanto Sunarto, 2005

•••


About this entry