1900s: Stephanus Setiawan (1938-2006)

Stephanus Setiawan (1938-2006)

Stephanus Setiawan

† 13 April 2006

Kematiannya menyentak kalbu. Jum’at siang 14 April 2006 itu saya sedang bersiap checkout dari hotel di Balikpapan untuk terbang kembali ke Portland, Oregon. Tiba-tiba masuk sms dari Hanny lewat Singgih bahwa Setiawan telah wafat dan langsung akan dimakamkan siang itu juga. Meninggalkan istri (Marlina), dua putra (Valerian dan Mirokolas) serta lusinan teman, begitulah gayanya dalam kehidupan dan kematian: serba lugas, polos, tanpa basa-basi. Seperti kata Chairil Anwar dalam puisi Aku:

Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu…

Jelas bahwa Setiawan sama sekali bukan mahluk seperti yang digambarkan Chairil Anwar. Justru sebaliknya. Di balik sikap yang lugas dan polos, tersembunyi pribadi yang hangat, bernurani, mementingkan persahabatan yang tulus, murah hati, dan suka menolong siapapun tanpa pamrih. Meski kadang-kadang terkesan agak tidak sabar menghadapi kebodohan dan kemalasan, dia memperlakukan semua manusia setara, tanpa sedikitpun menghiraukan perbedaan pangkat, agama, ras, status ekonomi atau sosial.

Dia seorang kutu buku yang selalu pro-aktif memperluas wawasannya. Waktu senggang hari-hari bujangan kami habis untuk “menjarah” hampir semua toko buku dan kaset di Jakarta. Misalnya anda mencari buku The Stranger karangan Albert Camus. Percuma saja bertanya pada penjaga tokobuku yang hanya bisa bengong, karena Setiawan yang lebih tahu persis di bagian apa dan rak mana tempatnya. Di tahun 1970an, dia sudah melahap dan melalap Nietzsche, Malraux, Gide, Marx, Sartre, Tolstoy, Dostoevsky, dan Solzhenitsyn dalam bahasa Inggris, lama sebelum karya-karya mereka diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Bukan hanya buku. Sewaktu tempurung kepala saya hanya terbatas pada Bach, Mozart, dan Beethoven, dia menendangnya dan memasukkan Satie, Faure, Scriabin, dan entah siapa lagi ke dalamnya. Namun dia bukan seorang snob yang elitis, dan dapat bicara tentang Motinggo Boesye dan mengagumi keplastisan cerita-cerita silat terjemahan Boe Beng Tjoe. Meskipun tidak pernah membaca cerita-cerita silat, dia pernah bersabar menemani saya menonton Sien Tiauw Hiap Lu (Bagian I dan II) selama 2 x 3 jam di sebuah bioskop di Semarang dalam satu hari!

Berpikiran luas, berwawasan liberal, dan berselera humor tinggi, kearifannya menjadi magnet di tengah kejenuhan hidup sehari-hari. Matanya yang besar, bening, dan jenaka, dengan ekspresi baby face memancarkan keceriaan yang hidup dan kecerdasan yang intuitif. Meski tidak menyandang gelar akademis formal, semangat otodidak, gairah membaca, dan kehausan menonton film membuat siapapun perlu memperhitungkan pendapatnya yang berbobot, segar dan provokatif – baik dalam acara sumbang saran kreatif maupun diskusi santai. Di tengah segala kepalsuan basa-basi dan formalitas yang menyesakkan, pendapatnya yang selalu terus terang merupakan oasis segar di tengah tandusnya gurun status quo. Selera humornya yang tinggi selalu mampu menangkap nuansa tragis dari suatu komedi, dan nuansa komikal dari suatu tragedi. Dia bisa bersikap filosofis tanpa berpretensi untuk sok berfalsafah. Dia bisa menertawakan absurditas dan ironi kehidupan, apa saja siapa saja, termasuk dirinya sendiri. Seorang intelektual sejati, dia lebih banyak menggunakan tanda tanya dengan bercanda daripada tanda seru dengan serius.

Amat percaya akan pentingnya intellectual empowerment dan cultural enrichment bagi seorang graphic designer atau copywriter atau siapa saja yang mau mengembangkan diri, dia menjadi seorang mentor yang ideal dan produktif, bukan meskipun, tetapi justru karena latar belakangnya yang unik. Ketika saya kurang percaya diri, dialah yang terus mendorong agar saya terus menulis, baik sebagai copywriter maupun kolumnis.

Ilustrasi 1 – Majalah Prisma No. 3, Maret 1977, Tahun VI

Ilustrasi 2 – Majalah Prisma No. 3, Maret 1977, Tahun VI

Lahir di Wonosobo 10 Maret 1938 (sering saya goda dengan julukan Homo Wonosoboensis) dia dibesarkan dalam keluarga sederhana. Ayahnya seorang supir, ibunya praktis buta huruf – karena belum sempat menikmati buah emansipasi pendidikan yang diperjuangkan Raden Kartini. Namun, dasar berjiwa pemberontak, sejak awal dia menolak terbelenggu oleh keterbatasan lingkungannya. Mungkin karena bakat alamnya, Setiawan sudah mulai mencoret-coret sketsa sambil membantu ibunya menunggui kios di sebuah pasar Wonosobo. Kecintaannya pada seni sejak kecil tidak hanya terbatas pada seni grafis, namun juga mencakup seni musik klasik. Di zaman Belanda, kebetulan sepasang suami-istri Prancis yang menjadi konsultan teknis pembangunan sebuah bendungan dekat Wonosobo menjadi tetangganya. Mereka biasa memutar piringan-piringan hitam berbagai konserto piano Saint-Saëns dan Beethoven. Setiawan begitu terpesona dan terpikat oleh keindahan puitis dan melodius maha-maha karya piano ini yang seharusnya asing baginya, hingga dia menembus pagar dan bersembunyi di bawah jendela untuk mencuri-dengar. Apa boleh buat, pada suatu hari istri pasangan Prancis itu berhasil memergokinya dan justru dengan lembut mempersilakan Setiawan untuk masuk ke dalam rumah mereka untuk menikmatinya.

Apresiasi seni yang tinggi, bakat artistik, naluri estetika, dan kemauan kuat untuk terus mengembangkan wawasan, membuat Setiawan mendobrak awal yang sederhana di Wonosobo hingga akhirnya menjadi Art & Creative Director yang produktif dan disegani di Jakarta. Namun siapapun yang mengenalnya tahu bahwa dia tidak pernah terpukau oleh segala pangkat dan jabatan suatu struktur organisasi yang fana. Warisannya yang paling utama ialah semua orang yang pernah dibimbingnya dengan falsafah tut wuri handayani. Lagi-lagi, seperti kata Chairil Anwar:

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Setiawan memang tidak sempat hidup seribu tahun lagi, namun sepanjang hidupnya dia berlari hingga hilang pedih peri. Dia akan terus hidup dalam kenangan Marlina, Valerian, dan Mirokolas, serta banyak teman, rekan kerja, graphic designer, ilustrator, copywriter yang selalu akan merasa berhutang budi padanya untuk persahabatannya yang tulus dan bimbingannya yang arif *). Kemurahan hati dan persahabatannya telah membuka pikiran, hati, mata, telinga, dan potensi siapa saja yang beruntung pernah mengenalnya. Dia tidak berada di antara kita lagi, namun setiap kali mendengar dentingan piano Claudio Arrau yang memainkan Appassionata ciptaan Beethoven, atau Yesterday Once More suara Karen Carpenter, mau tidak mau saya selalu terkenang pada pribadi yang tulus dengan sepasang mata yang bening dan jenaka. Adios, Amigo.

Copyright © 2007 Johannes Tan, salah seorang sahabat Setiawan

*) Di antaranya adalah Lesin yang pernah belajar darinya selama magang di in-house studio milik PT Tempo (Sumber: Majalah Desain Grafis “Concept”, Vol. 3 Edisi 13, 2006)

Setiawan dan Hanny berpose di Cibodas, di bawah siraman abu Gunung Galunggung yang batuk-batuk, 1982.

Reuni tiga serangkai mantan “penjarah” tokobuku di Jakarta antara tahun 1975 dan 1983: Setiawan, Johannes, Hanny di restoran Dapoer Tempo Doeloe, 2002 (atau 2003?).


About this entry